Pegiat Pertanyakan Komitmen Aparat Penegak Hukum yang Melepas Dua Pelaku Penjual Kulit Harimau

Barang bukti kulit Harimau Sumatera berserta tulang tanpa taring saat diamankan petugas dari tangan kedua pelaku.

KRBN, Medan: Pegiat peduli satwa dilindungi menyoroti penanganan kasus terhadap dua orang pelaku berinisial S dan A yang diringkus petugas gabungan Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sumatera bersama Polda Aceh.

Adapun saat ini kedua pelaku berstatus sebagai saksi dan hanya dikenakan wajib lapor meski keduanya tertangkap tangan menjual satu lembar kulit Harimau Sumatera berserta tulang tanpa taring kepada petugas yang melakukan penyamaran menjadi pembeli dalam kegiatan Operasi Tumbuhan dan Satwa Liar atau TSL di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.

Status saksi tersebut memicu reaksi keras dari para pegiat satwa dilindungi salah satunya Lembaga Suar Galang Keadilan (LGSK).

Staf Legal Bidang Hukum LGSK, Wahyu Pratama SH mengaku bingung dengan proses hukum yang dijalankan Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera dan Polda Aceh terhadap kedua pelaku. Apalagi menurutnya status saksi disandang kedua pelaku setelah menjalani gelar perkara di Mapolda Aceh.

"Kalau mereka sudah ditangkap 1x24 jam dan ketika penangkapan dibarengi barang bukti, apa dasar hukumnya kedua pelaku dilepasin. Inikan kayak OTT, kedua pelaku ditangkap dengan barang bukti," ungkapnya, Jumat (27/5/2022).

Wahyu menegaskan pihaknya mempertanyakan komitmen Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera dan Polda Aceh dalam menindak para pelaku perdagangan satwa dilindungi.

Menurutnya alat bukti yang diamankan petugas saat penangkapan cukup untuk menetapkan kedua pelaku menjadi tersangka.

"Dalam acara hukum pidana sendiri ketika dilakukan tangkap tangan penyidik telah mengumpulkan bukti permulaan yang cukup. Kedua, secara hukum pidana, ketika kedua pelaku dilepasin, apa dasar hukum mereka dikenakan wajib lapor? selama status mereka tidak ditingkatkan menjadi tersangka, secara aturan hukum pidana, gak ada kewajiban mereka wajib lapor," terangnya. 

Wahyu menambahkan pihaknya mendesak Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera dan Polda Aceh untuk menangani kasus tersebut secara transparan.

"Jangan sampai publik menilai penegakan hukum ini tajam ke bawah tumpul ke atas," tambahnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Wilayah I Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, Haluanto Ginting mengatakan keduanya tidak ditahan setelah masih berstatus sebagai saksi.

"Kita masih mengejar satu orang pelaku lagi yang berhasil kabur. Pelaku berinsial I itu aktor intelektual," katanya.

Sebelumnya, S dan A diringkus petugas gabungan di SPBU Pondok Baru, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah, Selasa (24/5/2022).

Penangkapan itu berawal saat petugas memperoleh informasi adanya warga Kecamatan Samarkilang, Kabupaten Bener Meriah, menawarkan satu lembar kulit Harimau Sumatera.

Petugas yang melakukan penyamaran sebagai pembeli, kemudian mengamankan S dan A. Dari tangan kedua pelaku, petugas mengamankan sejumlah barang bukti satu lembar kulit Harimau Sumatera berserta tulang tanpa taring, satu unit mobil berserta STNK, dua unit handphone, dan masing-masing satu buah toples plastik dan kotak plastik.

Usai diamankan, pelaku berinsial A yakni Ahmadi merupakan mantan Bupati Bener Meriah periode 2017/2022.

Sebelumnya Ahmadi terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah setahun menjabat sebagai Bupati Bener Meriah, pada tahun 2018 lalu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar