Beratnya Pengabdian Guru di Pedalaman Kalimantan

Akses ke desa yang hanya bisa dilalui melalui sungai, salah satu tantangan bagi para guru yang mengabdi di pedalaman Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. (Foto: RRI/Ading Reflin)
Kadang perjalanan lewat sungai bisa melalui daerah-daerah ekstrem, entah karena arusnya yang deras atau hambatan alam lain. (Foto: RRI/Ading Reflin)
Long boat menjadi andalan warga dan pegawai pemerintah yang mengabdi di pedalaman Mentarang Hulu. (Foto: RRI/Ading Reflin)
Arus deras sungai merupakan salah satu risiko yang harus dihadapi warga dan pegawai pemerintah yang mengabdi di pedalaman Kalimantan. (Foto: RRI/Ading Reflin)

KBRN, Malinau: Mengabdi di daerah pedalaman Kalimantan bukan sesuatu yang mudah dijalani. Banyak tantangan dan kendala yang harus dihadapi. Antara lain akses yang sulit dan berbahaya, harga bahan-bahan kebutuhan pokok yang mahal dan langka. Ditambah fasilitas yang sangat minim.

Itu hanya contoh kecil dari tantangan mengabdi di wilayah pedalaman, sebagaimana diungkapkan Otnel, seorang guru dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang mengabdi di pedalaman Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

"Sudah beberapa tahun terakhir akses darat tidak lagi dapat menembus Mentarang Hulu, sehingga satu-satunya transportasi yang memadai melalui jalur sungai, menggunakan long boat dengan waktu tempuh sekitar 4 jam, dan biaya ratusan ribu per orang," tutur Otnel tentang sulitnya mencapai wilayah tempatnya mengabdi, Jumat (13/5/2022).

Tidak hanya itu, kepada RRI Otnel juga bercerita, sering kali dalam perjalanannya menuju tempat tugas ia harus mengarungi ekstremnya arus sungai. Bahkan pada tahun 2012 lalu ia pernah mengalami kejadian nahas. Long boat yang ditumpanginya karam, dan hampir merenggut nyawanya dan penumpang lainnya.

Susahnya akses hanya salah satu. Desanya hingga saat ini masih belum terlayani listrik. Dengan kondisi itu, Otnel terpaksa mengandalkan penerangan lampu minyak seadanya. Sedangkan untuk kebutuhan listrik penunjang keperluan komunikasi, ia harus menumpang di rumah warga yang memiliki pembangkit listrik tenaga surya.

“Jadi yang sangat susah di sana itu penerangan, kalau jaringan (seluler) kan sudah 4G, tapi listrik kan belum ada di sana. Kalau mengecas HP biasa kami numpang tentangga. Kalau lihat dari jauh rumahnya ada yang terang, ya kami numpang di sana,” tuturnya.

Dalam kondisi seperti ini, menurut dia, bantuan dari pemerintah akan sangat memotivasi para guru lebih semangat lagi dalam mendidik anak-anak di pedalaman.

“Harapan saya sih adanya dana-dana tunjangan yang lebih tinggi lagi gitu nah, karena kan sekarang ini ada perbedaan tunjangan TPP-nya (tambahan penghasilan pegawai, red). Kalau bisa dinaikkan sedikit, itu bisa jadi penyemangat guru-guru di sana,” harapnya.

Ia juga mengharapkan pelatihan dan pembinaan keterampilan yang berkaitan dengan profesi guru supaya lebih sering dilaksanakan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar