Bantah Dakwaan Suap Pajak, KPK Kantongi Bukti

Plt jubir KPK, Ali Fikri

KBRN, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan, pihaknya akan membuktikan surat dakwaan terhadap dua mantan pejabat Ditjen Pajak, Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani yang menjadi terdakwa perkara dugaan suap pemeriksaan pajak.

Termasuk mengenai suap Rp5 miliar dari janji Rp25 miliar yang diberikan Veronika Lindawati selaku orang kepercayaan pemilik PT Pan Indonesia atau Bank Panin, Mu'min Ali Gunawan kepada Angin Prayitno dan Dadan Ramdani.

Dalam isi dakwaan, suap itu diberikan agar Angin, Dadan dan tim pemeriksa pajak menurunkan nilai pajak dari yang seharusnya Rp926.26 miliar menjadi Rp303 miliar atau berkurang lebih dari Rp 600 miliar.

Plt Jubir KPK, Ali Fikri menyebut, surat dakwaan terhadap Angin Prayitno dan Dadan Ramdani disusun tim jaksa penuntut berdasarkan proses penyidikan. Untuk itu, KPK akan membuktikan surat dakwaan tersebut dalam proses persidangan perkara ini. 

"Jaksa akan membuktikan rangkaian fakta perbuatan para tersangka sebagaimana yang telah diuraikan dalam dakwaan," kata Plt Jubir KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Kamis (23/9/2021).

Pernyataan ini disampaikan Ali, menanggapi bantahan pihak Bank Panin. Samsul Huda selaku kuasa hukum Veronika dan Bank Panin, membantah memberikan janji kepada Angin dan Dadan untuk menurunkan nilai pajak Bank Panin.

Samsul juga membantah isi dakwaan yang menyebut peran Mu'min Ali selaku pemilik Bank Panin.

"Terkait dugaan adanya hadiah atau janji kepada pejabat di DJP oleh Saudari Veronika Lindawati, kami menegaskan bahwa tidak ada hadiah atau janji yang diberikan oleh Saudari Veronika Lindawati kepada Pejabat DJP atau pihak mana pun," kata kuasa hukum Bank Panin dan Veronika, Samsul Huda, melalui keterangan tertulis, Rabu (22/9/2021).

Ali mengajak seluruh pihak untuk mengikuti dan mengawal proses persidangan perkara suap pajak ini. Dikatakan, jaksa penuntut akan menghadirkan saksi dan alat bukti lain untuk membuktikan surat dakwaan.

"Saksi-saksi dan alat bukti lain akan dihadirkan di depan majelis hakim," katanya.

Sebelumnya, jaksa KPK mendakwa dua mantan pejabat pajak Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani menerima suap sebesar Rp15 miliar dan SGD4 juta atau sekitar Rp42 miliar. Suap total Rp57 miliar itu salah satunya dari kuasa wajib pajak Bank Panin Veronika Lindawati. Veronika disebut menyuap Angin Rp5 miliar dari komitmen fee Rp25 miliar.

Dalam dakwaan, disebutkan jika Veronika Lindawati merupakan orang kepercayaan Mu'min Ali Gunawan yang tak lain adalah pemilik bank tersebut. Veronika ditugaskan oleh Bank Panin untuk menegosiasikan nilai kekurangan kewajiban pajak PT Bank Panin.

"Bahwa untuk menegosiasikan penurunan kewajiban pajak Bank Panin, Bank Panin menugaskan Veronika Lindawati sebagai orang kepercayaan dari Mu'min Ali Gunawan selaku pemilik PT Bank Pan Indonesia, Tbk," ujar jaksa dalam surat dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (22/9/2021).

Besaran kekurangan kewajiban pajak Bank Panin setelah dicek oleh tim pemeriksa pajak yakni sebesar Rp 926.263.445.392. Atas besaran kekurangan kewajiban pajak tahun 2016 itu, Veronika menemui tim pemeriksa pajak pada 24 Juli 2018 di Kantor Direktorat Jenderal Pajak Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 40-42 Jakarta Selatan. 

"Dalam pertemuan tersebut, Veronika Lindawati meminta agar kewajiban pajak Bank Panin di angka sekitar Rp 300 miliar serta menyampaikan bahwa Bank Panin akan memberikan komitmen fee sebesar Rp25 miliar," kata jaksa.

Negosiasi berjalan lancar. Kemudian tim pemeriksa pajak berdasarkan persetujuan dari Angin dan Dadan kembali memeriksa kewajiban pajak Bank Panin. Alhasil, kewajiban pajak Bank Panin disunat sekitar Rp623 miliar. Dari semula Rp 926 miliar menjadi Rp 303 miliar.

"Setelah mendapat persetujuan dari para terdakwa, tim pemeriksa menindaklanjutinya dengan cara menyesuaikan fiskal positif pada sub pembentukan atau pemupukan dana cadangan sub biaya cadangan kredit (PPAP) Bank Panin, sehingga didapatkan hasil pemeriksaan sebesar Rp303.615.632.843," kata jaksa.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00