FOKUS: #PILKADA 2020

Tumbang, Petahana Bukan Lagi Segalanya

Tiga petahana di Pilkada Sumsel (Syarif Hidayat, Hendra Gunawan, Ilyas Panji Alam).

KBRN, Palembang: Tiga pasangan calon (Paslon) petahana tumbang, di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 di tujuh kabupaten dan kota Sumatera Selatan. Fenomena lain, ada dua kabupaten yang melawan kotak kosong.

Ketiga paslon petahana yang kalah itu adalah Ilyas Panji Alam-Endang PU Ishak di Pilkada Ogan Ilir. Paslon nomor urut 2 itu hanya mampu meraih 36.2 persen atau 84.914 suara.

Sementara paslon penantang, Panca Wijaya Akbar-Ardani unggul telak di angka 63.8 persen atau 149.848 suara. Panca notabene putra Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya sedangkan Ardani mantan Kabiro Hukum dan HAM Setda Sumsel.

Kemudian, paslon Hendra Gunawan-Mulyana di Musi Rawas kalah dari pesaingnya Ratna Machmud-Suwarti. Hendra-Mulyana meraih 104.620 suara atau 48,2 persen dan Ratna-Suwarti memperoleh 112.560 suara atau 51.8 persen.

Terakhir adalah di Pilkada Musi Rawas Utara (Muratara). Paslon Syarif HD-Surian kalah dari paslon penantang Devi Suhartoni-Inayatullah. Paslon petahana hanya mampu meraup 40.261 suara atau 35.5 persen dan paslon Devi-Inayatullah meraih 49.338 suara atau 43.5 persen.

Untuk kotak kosong terjadi di Pilkada Ogan Komering Ulu (OKU) dan OKU Selatan (OKUS). Di OKU, paslon petahana Kuryana Azis-Johan Anuar meraih 116.606 suara atau 64.8 persen, sedangkan kotak kosong berhasil mengantungi 63.244 suara atau 35.2 persen.

Kemudian di OKU Selatan, paslon petahana yang juga tunggal, Popo Ali Martopo-Sholihien menang telak dengan perolehan 210.623 suara atau 96.2 persen dan kotak kosong hanya mendapatkan 8.407 suara 3.8 persen.

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (Stisipol) Candradimuka Palembang Ade Indra Chaniago mengatakan, tumbangnya tiga petahana dalam Pilkada Sumsel menjadi fenomena yang menarik, meski dua petahana memang sudah diprediksi kalah dalam ajang Pilkada.

"Kalau Ogan Ilir dan Muratara sudah diprediksi, tapi di Musi Rawas, tumbangnya petahana menjadi kejutan," terang Ade Chaniago kepada RRI.co.id, Minggu (27/12/2020).

Menurutnya, petahana sebetulnya diuntungkan, karena sejak dilantik hingga Pilkada dia sudah melakukan kampanye. Petahana tidak bekerja secara baik selama lima tahun menjabat, menjadi salah satu indikator tumbangnya petahana.

"Untuk kasus di Sumsel, terutama di Ogan Ilir dan Muratara, berdasarkan data yang kami dapatkan dari lapangan, kegagalan mereka bukan semata karena tidak maksimalnya kinerja petahana. Tapi ada beberapa faktor lain seperti pragmatisme (pola pikir) dan oligarki ekonomi atau faktor uang," papar Ade.

Khusus Musi Rawas, lanjut dia, secara kasat mata berdasarkan debat publik, tidak berimbang dan sebagai masyarakat menginginkan pemimpin yang cerdas.

"Kalau tidak salah Ratna-Suwarti tidak hadir di acara debat. Dari informasi yang kami dapat, di dua kecamatan yaitu Muara Kelingi dan Muara Beliti, waktu pemilihan hujan deras, tapi partisipasi pemilih melebihi kabupaten lain. Ini menurut saya aneh," cetusnya.

Terkait kotak kosong, sangat tidak mendidik dan menjadi ajang pembodohan masyarakat dalam kontek demokrasi. Kotak kosong terjadi karena petahana belajar dari generasi sebelumnya, karena lebih mudah menang dengan melakukan aksi borong partai.

"Namanya pemilihan ada alternatif dan perbandingan, antara A dan B. Kalau kotak kosong menciptakan ketidakseimbangan demokrasi," tandas mahasiswa doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI).

"Fenomena kotak kosong diprediksi bisa meningkat dan akan menjadi referensi calon lain untuk melakuka hal yang sama. Hal ini terjadi karena aturan di negara kita yang membolehkan mencalonkan dari gabungan partai, sehingga terjadi deal-deal khusus. Harusnya setiap partai diperbolehkan mencalonkan kadernya untuk berkompetisi secara demokrasi," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00