Demokrasi, Komunikasi Politik, dan Membangun Kepercayaan

Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro. (Dok. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh berlimpahnya sumber daya alam dan manusia, tetapi hal paling penting adalah terbangunnya trust culture atau budaya saling percaya sebagai modal mendasar bagi kemajuan sebuah bangsa.

Budaya saling percaya baik horizontal maupun vertikal merupakan energi dan semangat dalam menggerakkan ruang publik menjadi demokratis dan produktif.

Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, mengatakan, bahwa untuk membangun kepercayaan dalam iklim demokrasi ini, pemerintah perlu melakukan perbaikan-perbaikan dalam komunikasi politiknya.

Baik itu komunikasi dengan para tokoh maupun dengan masyarakat.

”Di Indonesia ini ada yang namanya UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), bukan hanya UU ITE. Jadi masyarakat memiliki hak untuk mengakses informasi, sehingga informasi yang disampaikan oleh pemerintah kepada masyarakat ini harus transparan,” ujar Siti Zuhro, dalam keterangan yang diterima wartawan di Jakarta, Sabtu (24/10/2020).

Siti menyarankan setiap permasalahan yang ada harus dikenali untuk mengetahui apa solusinya, sehingga bisa segera dilakukan perbaikan-perbaikan.

Karena menurutnya, kalau permasalahan ini hanya dibiarkan saja hingga menumpuk maka bisa menimbulkan akumulasi ketidakpuasaan dan membuat masyarakat tidak percaya kepada pemerintah.

”Kita ini kan sedang membangun demokrasi, membangun demokrasi itu kan bukan cuma saat Pilkada dan Pemilu. Tapi bagaimana mengedukasi masyarakat dengan nilai-nilai demokrasi. Sehingga masyarakat bisa memahami apa esensi demokrasi itu sendiri,” jelas Siti.

Siti Zuhro, peneliti senior LIPI kelahiran Blitar, 7 November 1958 ini menerangkan, bahwa perlu melembagakan nilai-nilai terkait demokrasi menjadi suatu pemahaman, suatu orientasi yang nantinya bisa dilaksanakan oleh masyarakat.

Jadi dalam berdemokrasi kita bisa melakukan trust building, sehingga tidak ada lagi rusuh dalam setiap sengketa Pilkada.

”Saling mencemooh, saling saling melecehkan, ini kan sama sekali sekali bukan demokrasi. Padahal kan demokrasi diadakan agar konflik itu tidak mengerucut dan menjadi tren. Jadi semakin demokratis masyarakat harusnya konflik dan kekerasan itu semakin menurun,” terangnya.

Selanjutnya : Demokrasi dan Trust Building

Halaman 1 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00