FOKUS: #POLEMIK PARTAI DEMOKRAT

Hormati Moeldoko, AHY: 'Once Soldier Always Soldier'

(berdiri di podium) Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (Dok RRI/Josua Sihombing)

KBRN, Jakarta: Prahara kepengurusan Partai Demokrat (PD) yang saat ini terdapat dua kepemimpinan berbeda antara Ketua Umum (Ketum) PD hasil Kongres ke-5 pada 15 Maret 2020 yang dipimpin oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan Ketum hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang, Sumatera Utara pada 5 Maret 2021 yang dipimpin Moeldoko, masih menjadi sumber ketegangan politik.

Meski kedua kubu saat ini saling bersitegang, namun AHY, Ketum PD yang saat ini masih diakui oleh pemerintah itu tetap memegang prinsip kemiliterannya.

"Sebagai mantan prajurit dan beliau (Moeldoko) mantan Panglima, saya tetap hormat. Itulah tradisi keprajuritan yang kami junjung tinggi di Militer 'Once Soldier Always Soldier' (Sekali Prajurit Tetap Prajurit)," kata AHY di Auditorium Yudhoyono Kantor DPP Partai Demokrat, di Jakarta, seperti diikuti rri.co.id dan awak media lainnya, Sernin (8/3/2021).

BACA JUGA: AHY Tidak Punya Masalah Pribadi dengan Moeldoko

Sebagai mantan prajurit yang berpangkat Mayor Infanteri, AHY tetap menghormati Moeldoko yang merupakan Purnawirawan Jendral tertinggi di bidang kemiliteran.

Akan tetapi, melihat bukti keterlibatan Moeldoko dalam Gerakan Pengembailalihan Kepempinan Partai Demokrat (GPKPD) melalui KLB Deli Serdang, AHY berharap Moeldoko dapat menyadarinya.

"Tetapi kami bermohon kebesaran hati untuk bisa menyadari bahwa apa yang telah terjadi dan apa yang dilakukannya memang telah menyakiti ratusan ribu bahkan jutaan kader dan simpatisan Partai Demokrat," imbuhnya.

"Bangsa kita adalah bangsa yang besar, masyarakat yang berbudaya tinggi dengan nilai-nilai yang luhur, ramah tamah, sopan santun, juga dengan dilandasi oleh nilai agama dan etika," pungkas AHY. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00