Polisi Perairan Ungkap 7 Kasus Menonjol

Kasubdit Patroli Air Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri Kombes Pol Dadan. Foto: Ryan Suryadi/RRI

KBRN, Jakarta: Ditpolair Korpolairud Baharkam (Direktorat Polisi Perairan Korps Kepolisian Air dan Udara Badan Pemeliharaan Keamanan) Polri mengungkap kasus selama bulan Mei 2022. Terdapat tujuh kasus menonjol yang diungkap jajaran Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri dari daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Kasubdit Patroli Air Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri Kombes Pol Dadan mengatakan, tujuh kasus di antaranya mulai dari penyelundupan kayu hingga penangkapan kapal asing.

"Kasus pertama yakni penimbunan BBM jenis solar di Pelabuhan Penyeberangan Beringin Kecamatan Kandai, Kendari, Sulawesi Tenggara," ujar Dadan di Mako Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (25/5/2022).

Dalam hal ini, dua orang berinisial LR dan HD ditetapkan tersangka, setelah menimbun BBM subisidi yang didapat dari nelayan dan dijual kembali ke masyarakat. Potensi kerugian negara yang bisa ditimbulkan dari kasus ini sebesar Rp 54,8 juta.

Kasus kedua dan ketiga tentang penangkapan ikan ilegal. Pada 22 Mei 2022 kemarin Polair juga mengungkap dua kasus penangkapan ikan secara ilegal menggunakan jaring trawl di Perairan Selatan Karang Suji, Kepulauan Bangka Belitung.  Dari penangkapan pertama polisi menangkap empat tersangka, sedangkan penangkapan kedua ada tiga orang tersangka. Para tersangka menangkap ikan dengan menggunakan jaring trawl yang sudah dilarang penggunaannya.

"Kerugian dari masing-masing kasus mencapai Rp 325 juta dan Rp 2,9 miliar," ucap Dadan. 

Kemudian di kasus keempat terkait destructive fishing alias penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. Kasus tersebut terjadi pada 21 Mei 2022. Dari kasus ini sebanyak sembilan pelaku diamankan dengan barang bukti 145.398 mililiter bahan peledak yang berpotensi menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 7,26 miliar.

Kasus kelima dan keenam yakni pembalakan liar alias illegal logging yang diungkap aparat Polair di wilayah Kalimantan Barat. Dadan menjelaskan, yang pertama dari Perairan Sungai Desa Sukaharja, Kalimantan Barat, dengan ditangkapnya dua kapal motor pembawa 295 batang kayu jenis meranti.

"Dua kapal masing-masing KM Borneo I dan KM Borneo II, tidak dilengkapi Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH). Potensi kerugian Rp 23,28 miliar," ucap Dadan.

Masih di Kalimantan Barat, Polair juga mengamankan dua orang dari Perairan Sungai Sebelah karen melakukan illegal logging. Dari situ, polisi mengamankan 210 batang kayu dengan diameter 20-30 sentimeter dan panjang 4 meter yang berpotensi merugikan negara sebesar Rp 16,57 miliar.

Kemudian kasus yang terakhir atau ketujuh adalah soal penangkapan kapal ikan asing berbendera Malaysia. Polair menangkap satu nakhoda dan lima anak buah kapal asing tersebut pada 22 Mei, ketika mereka sedang melakukan illegal fishing.

"Kapal yang mencuri itu kapal ikan asing dari Malaysia. Potensi kerugian negara sebesar Rp 27 miliar," tambah Dadan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar