Pelaku Penggerak Kerusuhan Demo Ciptaker Bertambah

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Nana Sudjana (kedua dari kiri). (Dok foto: Anggi/RRI)

KBRN, Jakarta : Pihak kepolisian kembali mengamankan para pelaku yang diduga melakukan penghasutan dan provokasi terhadap aksi unjuk rasa atau demonstrasi Omnibus Law UU Cipta Kerja yang berakhir ricuh di Jakarta beberapa waktu lalu. 

Tercatat hingga kini, polisi telah mengamankan 10 pelaku, yang delapan orang diantaranya merupakan admin dan anggota WhatsApp Group (WAG). Sedangkan dua orang lainnya merupakan admin serta kreator Facebook STM se-Jabodetabek.

"Semuanya anak di bawah umur. Untuk yang medsos, masih ada tiga orang yang DPO dan masih terus dilakukan pengejaran dan pengembangan," ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Nana Sudjana dalam jumpa wartawan di Mapolda Metro Jaya, Selasa (27/10/2020). 

Nana menjelaskan, kesepuluh orang itu diantaranya DS (17) dan MA (15) yang merupakan anggota dalam WAG (Whatsapp Grup) Dewan Penyusah Rakyat, AH (16) dan MNI (17) anggota WAG Ruang Guru, AS (15) FIQ (16), FSR (15) dan AP (15) anggota WAG Omnibus Law Jakarta Timur. Sedangkan dua pelaku lainnya admin akun Facebook Grup STM se-Jabodetabek berinisial GAS (16) dan kreator akun Facebook tersebut berinisial JF (17).

Menurut Nana kesepuluh orang itu diduga telah melakukan penghasutan dan provokasi di media sosial tersebut agar aksi unjuk rasa berjalan ricuh. Dia menerangkan, postingan bernada provokasi disebar ke pelajar STM. Narasi seperti mengajak seluruh STM se-Jabodetabek bergerak ke gedung Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Provokasi itu juga ada imbauan untuk membawa peralatan tempur saat demo, zeperti petasan, molotov, senter, laser, dan ban bekas.

"Postingan ini memang berisi hasutan yang mengajak untuk melakukan demo anarkis. 'Ayo ikut membela hak kita, lawan hukum yang enggak masuk akal'," katanya. 

Nana mengatakan saat ini kasus anggota WAG ditangani oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya, sedang kasus admin dan kreator Facebook STM se-Jabodetabek ditangani Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.

"Karena ini anak di bawah umur maka aturannya melalui peradilan anak," tuturnya.

Akibat perbuatannya, para pelaku ini dikenakan Pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45a ayat 2 UU Nomor 19 tahun 2016 atas perubahan UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman penjara enam tahun.

Pasal 14 UU Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dengan hukuman penjara maksimal 10 tahun. Pasal 15 UU Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dihukum dengan hukuman penjara maksimal tiga tahun. Pasal 160, 55 dan 56 KUHP, dengan ancaman penjara maksimal enam tahun.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00