Launching Produk Yalsa Boutique Pakai Uang Member

penampilan penyanyi dangdut Erie Suzan pada saat peluncuran produk Yalsa Boutique. Foto : Aceh Online.
Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy.

KBRN, Banda Aceh: Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh, mengungkap fakta baru terkait dugaan tindak pidana investasi bodong Yalsa Boutique. 

Ternyata, pada saat acara launching produk busana di Banda Aceh Januari 2021 lalu, pihak Yalsa menggunakan uang member (anggota) senilai Rp300 juta. 

"Jadi dari hasil penyelidikan oleh penyidik Ditkrimsus Polda Aceh terhadap owner Yalsa Boutique bahwa pada saat acara lounching produk di Banda Aceh beberapa waktu lalu menggunakan uang member sebesar Rp 300 juta," kata Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy di Banda Aceh, Selasa (23/2/2021). 

Winardy menyebutkan, pada saat lounching produk busana muslim yang berlangsung di salah satu hotel mewah di Banda Aceh itu menghabiskan anggaran sebesar Rp800 juta. 

"Dari owner bilang habis anggaran Rp 800 juta, pakai punya owner Rp 500 juta dan Rp 300 punya member," jelasnya. 

Dia juga mendapat informasi, pada saat acara lounching produk tersebut juha melanggar protokol kesehatan Covid-19. 

"Kita juga dapat info bahwa acara tersebut juga melanggar prokes," ujarnya. 

Sebagaimana diketahui, Yalsa Boutique meluncurkan produk busana di Hotel Hermes Palace pada 23 Januari 2021. Acara itu turut mengundang sejumlah artis ternama. Disebut-sebut, acara lounching produk Yalsa ini paling mewah karena papan bunga ucapan selamat berjejer dari kawasan Pango hingga ke depan Kantor Gubernur Aceh. 

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy mengatakan, bisnis yang dijalankan oleh Yalsa Boutique adalah investasi bodong karena tidak mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

"Ya itu bisa dikatakan investasi bodong karena menghimpun dana dari masyarakat secara ilegal atau tidak ada izin," tegasnya. 

Baca Juga: Investasi Bodong Yalsa Boutique Rugikan Anggota Rp20Miliar

Menurut Winardy, dari hasil koordinasi dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terungkap bahwa bisnis investasi tersebut tidak ada izin. 

"Tidak ada izin dari OJK, jadinya ilegal," ungkapnya. 

Dijelaskan Winardy, saat ini penyidik dari Subdit II Ditkrimsus Polda Aceh telah memeriksa 13 orang termasuk owner Yalsa Boutique berinisial S beserta istrinya. 

"Kasus ini sudah dilaporkan ke Polda Aceh dengan nomor laporan Polisi model A tertanggal 11 Februari 2021. Jadi ada lebih kurang 13 orang saksi yang sudah diperiksa ya. 13 orang saksi yang diperiksa ini adalah owner ya. Jadi ada ownernya yaitu ada dua (suami istri) kemudian admin dan reseller, mereka masih kita periksa, belum ditetapkan sebagai tersangka," ujarnya. 

Bisnis Yalsa Boutique yang sudah berjalan sejak 2019 hingga awal 2021 ini menjanjikan keuntungan kepada member sebesar 30 hingga 50 persen dari bisnis konveksi. 

"Awalnya ini adalah bisnis konveksi busana muslim, mereka bilang kalau mereka bikin baju konveksi, namun kenyataannya mereka mengambil baju dari produk orang lain dan menjualnya. Hasil penjualan tersebut yang kemudian dibagi hasil. Awalnya berjalan lancar, namun kemudian hasil keuntungan sudah tidak disetor ke member dan modal investasi juga tidak bisa ditarik lagi," bebernya. 

Menurut Winardy, berdasarkan penyidikan, terdapat sekitar 3.775 member yang ikut dalam bisnis investasi ini. Sementara dana yang dihimpun dari para member sudah mencapai Rp 20 miliar. Diketahui member yang ikut dalam bisnis investasi ini berasal dari Aceh, Sumatera Utara dan Riau. 

"Kita mengimbau kepada member Yalsa Boutique untuk segera melaporkan ke Mapolda Aceh, ini untuk memudahkan penyidikan kita, juga untuk mengetahui berapa orang member dan berapa dana yang sebenarnya yang telah dikumpulkan dalam bisnis investasi ini," imbau Winardy. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00