KONI Pusat dan IADO Tingkatkan Pendidikan Anti-Doping

Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman (kanan) dan Ketua Indonesia Anti-Doping Organization (IADO) Gatot Dewa Broto saat penandatanganan nota kesepahaman di Kantor KONI ,Selasa (5/7/2022). (Foto: KONI Pusat)

KBRN, Jakarta: Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat memiliki peran strategis dalam melakukan pendidikan anti-doping, di mana menurut perundangan memiliki kewenangan mengembangkan olahraga prestasi dan mengoordinasikan seluruh kegiatan olahraga di Indonesia.

Untuk itu, Ketua Umum (Ketum) KONI Pusat Marciano Norman bersama Ketua Indonesia Anti-Doping Organization (IADO) Gatot Dewa Broto melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Nota kesepahaman yang telah ditandatangani meliputi kampanye anti-doping, pencegahan doping, buku panduan doping dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) dan kejuaraan olahraga nasional, pendidikan anti-doping secara reguler dalam pembinaan olahraga prestasi secara menyeluruh dan lainnya.

“Penandatanganan kerja sama ini sangat penting karena termuat di dalamnya bagaimana kita mengedukasi atlet, mengedukasi seluruh pemangku kepentingan di dalam olahraga agar ke depan kita paham terhadap doping, sehingga tidak ada lagi kasus-kasus yang menjerat atlet kita karena doping,” jelas Marciano dalam keterangannya kepada media usai melakukan penandatangan nota kesepahaman di kantor KONI Pusat, Selasa (5/7/2022).

Mengenai potensi terjadinya kasus doping pada atlet, menurut Marciano, hal itu dapat terjadi karena dua kemungkinan, antara kesengajaan atau ketidaktahuan. Ia berharap dengan pendidikan anti-doping, pelaku olahraga menjadi tahu dan sadar dengan akibat doping.

“Doping ini bisa karena ketidaktahuannya atau bisa karena memang disengaja, tetapi kebanyakan adalah karena ketidaktahuan mereka,” tutur Marciano.

“Oleh karena itu saya berharap kerja sama ini, IADO dengan KONI nanti bisa keliling baik itu ke KONI provinsi, KONI kabupaten/kota maupun ke cabang-cabang olahraga, sehingga kita memberikan perlindungan kepada atlet-atlet. Indonesia akan bersih namanya di dunia, tidak terulang lagi kasus-kasus yang kita pernah disanksi oleh WADA,” tambah dia.

Sementara Ketua IADO Gatot Dewa Broto pun mengapresiasi KONI Pusat yang sigap dalam mengampanyekan anti-doping.

“Ini adalah MoU pertama mendahului KOI dan NPC,” kata Ketua IADO.

Gatot juga memandang KONI Pusat sangat strategis dalam melakukan kampanye anti-doping secara masif karena anggotanya ada di 34 KONI provinsi yang membawahi 514 KONI kabupaten/kota dan 71 induk cabang olahraga (cabor), yang juga membawahi pengurus provinsi (pengprov) hingga tingkat kabupaten/kota. Sehingga sosialisasi secara masif bersama KONI Pusat diharapkan mampu mengantisipasi kasus terjadinya kasus doping pada atlet.

“Akan diberikan sosialisasi dan yang sekarang eranya digital. Nah, nanti tidak hanya secara fisik tapi secara digital akan kita lakukan, dengan harapan juga semakin banyak atlet memahami,” ujar Gatot.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar