Olimpiade, Warga Tokyo Khawatir Peningkatan Kasus COVID-19

Sejumlah warga menyeberang jalan di kota Shinjuku, Tokyo, Jepang, Minggu (18/7/2021). Menjelang pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 pada 23 Juli mendatang, aktivitas masyarakat di Tokyo tampak masih ramai meski daerah tersebut berstatus darurat Covid-19. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

KBRN, Jakarta: Penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 yang resmi dimulai pada Jumat (23/07/2021) lalu, dikhawatirkan akan berdampak pada peningkatan jumlah kasus ketertularan COVID-19 di Jepang.  

Seorang warga Tokyo, Takehiro Masutomo, mengatakan, banyak pihak yang mengkhawatirkan akan terjadi peningkatan jumlah kasus COVID-19, bahkan bisa mencapai level tertinggi selama penyelenggaraan olimpiade.

“Banyak ahli percaya bahwa kasus harian bisa mencapai level tertinggi selama penyelenggaraan COVID-19. Sehingga, sumber medis bisa habis sebelum olimpiade selesai. Jadi, itulah masalah besarnya,” ucap Takehiro ketika dihubungi RRI.co.id, Selasa (27/07/2021).

Menurut Takehiro, warga berharap “manajemen gelembung” bisa benar-benar bekerja selama pelaksanaan olimpiade, terutama dalam mencegah penyebaran virus COVID-19 ketika penyelenggaran olimpiade rampung.

“Pemerintah harus memastikan bahwa mengunjungi para atlet tidak akan menyebabkan penyebaran virus ketika mereka kembali ke negaranya. Jadi, warga memberikan perhatian yang sangat dekat ada atau tidaknya manajemen gelembung ini bisa benar-benar bekerja. Saya pikir ini adalah tantangan utama,” tegas pria yang pernah magang di salah satu media nasional Indonesia ini.

Dikatakan, belum lagi peluang berkumpulnya warga Jepang untuk menyaksikan pertandingan, bisa menjadi salah satu penyebab penularan infeksi COVID-19 yang cepat.

“Merujuk pada COVID-19, karena banyak warga Jepang yang berkumpul untuk menyaksikan pertandingan bersama-sama, ini juga bisa mempercepat infeksi,” imbuh Takehiro.

Takehiro menambahkan, “Olimpiade Tokyo 2020” baginya dinilai tidak tepat untuk diselenggarakan di tengah pandemi.

“Saya tidak terlalu menyaksikan pertandingan, saya bahkan tidak menonton pertandingan apapun. Sebab, menurut saya ini bukanlah waktu yang tepat untuk disebut sebagai pertandingan Olimpiade. Jadi, saya tidak menyaksikan Olimpiade tahun ini. Saya tidak terlalu mendukung para atlet Jepang secara khusus,” ungkapnya.

Selain permasalahan kasus COVID-19 yang terbilang tinggi dimana saat pembukaan “Olimpiade Tokyo 2020” pekan lalu yang menembus lebih dari 1.400 kasus, Jepang juga dihadapkan dengan persentase vaksinasi di bawah 50%.

Dilansir Japantimes, saat ini sekitar 20% orang di Jepang yang memenuhi syarat untuk mendapatkan suntikan COVID-19 telah diinokulasi sepenuhnya.

Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, menyebutkan, jika banyak warga yang telah divaksinasi, membuka peluang untuk adanya penonton saat penyelenggaraan olimpiade.

“Saya setuju, akan menjadi lebih baik jika kami melakukan penyebaran ketersediaan vaksin lebih cepat. Jadi, kami bisa menghadirkan para penonton di olimpiade. Namun, kecepatan penyebaran vaksin sekarang sangat meningkat,” ujar Yuriko Koike dalam wawancara khusus bersama BBC News awal pekan lalu.

Pada penyelenggaraan dua pekan “Olimpiade Tokyo 2020” pihak penyelenggara menerapkan peraturan, dengan tidak mengizinkan adanya penonton umum di setiap pertandingan.

Dilansir Kyodo News, Jepang memulai vaksinasi pada Februari lalu untuk para petugas medis dan warga berusia 65 tahun ke atas mulai April.

Sedangkan, vaksinasi untuk warga berusia di bawah 65 tahun dimulai baru-baru ini.

Perdana Menteri Yoshihide Suga menargetkan vaksinasi COVID-19 dapat rampung pada November tahun ini.

Pada Selasa (27/07/2021), Jepang menduduki peringkat pertama dengan perolehan sebanyak 10 medali emas, kemudian disusul Amerika Serikat dan Tiongkok pada tiga besar. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00