FOKUS: #OLIMPIADE TOKYO

Pandemi Mengubah Peta Kekuatan Negara Peserta Olimpiade

Lifter putri Indonesia Windy Cantika Aisah melakukan angkatan snatch dalam kelas 49 Kg Putri Grup A Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, Sabtu (24/7/2021). Windy Cantika berhasil mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia yakni perunggu dengan total angkatan 194 Kg. Dan Windy dinilai layak dipersiapkan kembali untuk tampil di Olimpiade Paris 2024 mendatang. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

KBRN, Jakarta: Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, menilai, peta persaingan Olimpiade Tokyo 2020 mengalami perubahan akibat banyak faktor yang terjadi selama masa pandemi Covid-19.

Indonesia menutup penampilan di Olimpiade Tokyo dengan menempati posisi 55 dengan koleksi 5 medali, yaitu 1 emas, 1 perak, dan 3 perunggu.

Jika dilihat secara ranking, posisi Indonesia turun 9 peringkat dibanding Olimpiade 2016 Rio de Janeiro kala Indonesia mendapatkan 1 medali emas dan 2 perak.

Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC), Raja Sapta Oktohar

“Jika melihat peta kekuatan Asia Tenggara, Indonesia berada di ranking dua setelah Filipina. Tapi, Indonesia memiliki potensi kenaikan posisi medali dari cabang olahraga angkat besi. Perunggu Windy Cantika Aisyah (kelas 49kg putri) berpotensi naik menjadi perak apabila peraih medali emas (asal China, Hou Zhihui) bisa dibuktikan doping,” kata Okto, sapaan karib Raja Sapta melalui keterangan tertulis yang diterima RRI.co.id, Senin (9/8/2021).

Ia melanjutkan, Olimpiade masa Covid-19 saat ini membuat peta persaingan berubah.

Okto menjelaskan, ada sebanyak 93 (45,15%) negara dari 206 peserta yang berhasil memperoleh medali.

Artinya, ada peningkatan 7 negara (3,6%) dibanding Olimpiade Rio.

Selain itu, dijelaskan Okto, ada 17 negara yang mendapatkan lompatan tajam dari Olimpide Rio, seperti, Norwegia yang menempati ranking 20 di Tokyo dibanding sebelumnya 74 di Rio.

Ada juga Bułgaria (30 di Tokyo, 66 di Rio) dan Chinese Taipe (34 di Tokyo, 50 di Rio).

Bahkan ada pula negara-negara yang sebelumnya tanpa medali di Rio, tetapi kini menempati posisi tengah, seperti Uganda (36), Ekuador (38), dan Hong Kong (49).

“Tapi ada juga yang mengalami penurunan, seperti Argentina yang sebelumnya menempati ranking 27 di Rio kiwi berada di peringkat 72.Kazakhstan yang di Rio 22 kini di posisi 83, Kolombia di Rio 23 kini menempati 66, Bahrain sebelumnya 48 di Tokyo hanya mampu berada di ranking 77, Afrika Selatan dari posisi 30 di Rio kini di Tokyo Rank 52, Ethiopia yang di Rio berada dua ranking di atas Indonesia, kini di urutan 56. Begitu juga Thailand yang di Rio 35 kini 52, berada di bawah Indonesia,” tambah Okto dalam keterangan tertulis dari NOC Indonesia.

“Filipina dengan hasil 1 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Itu sebenarnya juga memiliki target 3 emas di Olimpiade Tokyo," imbuhnya.

Terlepas dari itu, tambah Okto, hasil Olimpiade Tokyo menjadi pembelajaran berharga bagi Indonesia.

Untuk itu, Okto meminta izin kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali untuk bisa mengawal proses kualifikasi Olimpiade 2024 Paris.

Terlebih, tiga dari enam atlet peraih medali di Tokyo berusia kurang atau telah menginjak 23 tahun.

Mereka, kata Okto, berpotensi tampil di Paris.

“Sebanyak 14 orang atlet Indonesia yang turun di ada 14 atau 50 persen ini berusia kurang atau sama dengan 23 tahun. Dan 21 atlet atau 75 persen secara usia masih mungkin tampil mengikuti kualifikasi menuju Paris. Sebut saja jika Greysia dan Eko disiplin berlatih, jaga fisik, asupan nutrisi baik, pun masih punya peluang tampil lagi di Paris,” katanya.

Okto juga berterima kasih kepada Menpora Amali yang  telah memberikan support kepada Kontingen Indonesia di Olimpiade Tokyo.

Selain itu, tambah Okto, apresiasi ditujukan untuk KBRI untuk Tokyo yang telah membantu Kontingen Merah putih selama penyelenggaraaan multi event paling bergengsi edisi ke-32 ini bergulir.

Kontingen Indonesia untuk Olimpiade Tokyo dipimpin Chef de Mission Rosan Perkasa Roeslani berjumlah 28 atlet dari delapan cabor, yaitu bulu tangkis, angkat besi, atletik, panahan, surfing, renang, menembak, serta rowing.

Selain atlet, Indonesia juga memiliki lima ITO yang bertugas di Olimpiade Tokyo, yakni 3 dari cabor bulu tangkis, 1 tinju, dan 1 loncat indah. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00