Walet Komoditas Unggulan Sumsel, Kualitasnya Harus Semakin Ditingkatkan

KBRN, Palembang : Tren ekspor Sarang Burung Walet (SBW) ke sejumlah negara tujuan, terutama Tiongkok semakin meningkat.

Namun sayang, belum banyak petani SBW yang mengerti cara memaksimalkan komoditas ini agar bisa meningkatkan nilai jual.

Disamping itu, sejumlah negara tujuan seperti Tiongkok, Australia dan Amerika menerapkan persyaratan cukup ketat terkait ekspor sarang burung walet, salah satunya yaitu kandungan Nitrit tidak boleh lebih 0,30 rpm.

Oleh karena itu, diperlukan pembinaan bagi para petani SBW di Sumsel, agar mereka bisa menciptakan sendiri kualitas sarang burung walet.

"Supaya ekspor sarang burung walet bisa kita rasakan langsung potensinya dari Palembang, kami harus membina dan mengawal petani walet kita ini untuk meningkatkan skillnya, bagaimana cara merawat gedung walet yang benar, agar kuaitas yang muncul itu bersih dan sanitasinya terjamin, serta kandungan nitritnya juga sesuai standar internasional," kata Kepala Karantina pertanian Palembang Hafni Zahara melalui Subkoordinator karantina hewan Drh. Herwintarti usai menggelar bimbingan teknis akselerasi ekspor sarang burung walet (SBW) belum lama ini.

Dengan adanya pemahaman itu, lanjut Herwintarti, maka diharapkan potensi walet dari Sumsel lebih meningkat dan mensejahterakan para petani.

"Jadi mereka menjual tidak sekedar habis panen jual, tapi juga teknik memanennya perlu diperhatikan, sehingga walet itu nyaman dan bisa berkembang-biak dengan baik di rumah waletnya," ujarnya.

Berdasarkan data rilis BPS pada tahun 2020, ekspor SBW mengalami peningkatan, yaitu Rp 7,8 Triliyun dan ekspor ke Tiongkok mencapai Rp 6 Triliyun.

Perjalanan komoditas SBW dari Sumsel sebelum tembus ke pasar ekspor, ternyata harus melalui Jakarta-Semarang dan Subarabaya terlebih dahulu untuk kemudian diolah di pabrik yang telah mendapat audit dari negera tujuan ekspor. 

"Di Sumsel kelemahannya belum punya pabrik pengolahan walet sendiri, jadi itu ya kita mendorong pemerintah daerah kedepan untuk membangun rumah pencucian walet sendiri, sehingga standar kualitas sudah terpenuhi dulu baru nanti akan meningkat," tambahnya.

Sementara itu, untuk bisa tembus antar daerah (domestik), SBW harus melalui persyaratan antar-area dari Badan Karantina, diantaranya tidak ada kandungan Nitrit dan dalam kondisi bersih.

Tak hanya untuk mencukupi kebutuhan ekspor, ternyata tren permintaan sarang burung walet dari Sumsel ke wilayah lain di indonesia juga cukup tinggi.

"Kita satu tahun itu rata-rata mencapai 65 ton," tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar