Merdeka Belajar Bisa Diterapkan, Tapi Jangan Kebablasan

KBRN, OKU Timur : Bupati OKU Timur H.Lanosin ST dan Direktur GTK DIKMEN DIK SUS RI  Dr H Yoswardi Msi , menjadi narasumber dalam Seminar Pendidikan yang digelar oleh Pemerintah OKU Timur yang berlangsung di Paray Tani Hotel, Sabtu (14/5/2022).

Seminar dengan moderator Weni Ramdiastuti itu mengangkat tema "Potensi Media Digital dalam mensukseskan kurikulum merdeka belajar di lingkungan Pendidikan". Peserta terdiri 400 orang Guru , Pengawas dan Kepala sekolah dilingkungan Pendidikan.

Bupati Lanosin memandang kegiatan ini sangat luar biasa bagi kemajuan pendidikan OKU Timur karena di dalamnya ada wawasan  ilmu untuk menerapkan Merdeka belajar dan ini adalah sebuah program dari menteri pendidikan yang harus dilaksanakan bersama.

"Menurut pendapat saya, bahwasanya merdeka belajar yang menjadi prioritas artinya secara positif dapat terbentuk nya karakter yang baik bagi anak demi mencerdaskan bangsa dan negara." terangnya.

Selain itu mengenai merdeka belajar, kata Lanosin, merdeka disini tidak boleh kebablasan dengan kata lain jangan bar bar, guru boleh menentukan apa yang diinginkan anak didik dan apa yang menjadi kompetensi anak dapat dikembangkan sehingga terbentuk suatu karakter.

''Secara teknis kemerdekaan belajar kearah yang benar kalau pun ini dapat di penuhi dan dapat ditambahkan program merdeka pembelajaran,'' harapnya

Sementara itu Direktur GTK DIKMEN DIK SUS RI, mengatakan, seiring dengan kemajuan digital dan menyempurnakan kemajuan Media Sosial, bahwasanya telah lebih dari 3,5 juta orang memiliki akses internet dan lebih dari 5 JT orang diperkirakan memiliki semacam perangkat seluler atau yang lebih dikenal dan setengahnya adalah smartphone 

"Inisiatif ini mempengaruhi cara orang terlibat dengan orang lain melihatku dan jumlah tak terkecuali dunia pendidikan yang membatasi kegiatan belajar mengajar di sekolah." jelasnya.

Narsum lainnya, yakni Sekdin Disdikbud Dodi Purnamamenyampaikan,  terhadap Merdeka belajar agar  kita pahami sebagai sebuah terobosan mas menteri bagaimana anak-anak tersebut tidak ketinggalan.

''Kalau dulu kurikulum 13 memfokuskan kepada sikap pengetahuan dan keterampilan dan harus tuntas tapi kalau sekarang minat dan bakat ada dua komponen literasi dan numerasi serta  literasi bagaimana cara kita dalam memahami sebuah hubungan dengan numerasi,' Sebutnya.

Menurutnya, potensi anak perlu dipahami oleh guru selama kita melakukan pendekatan klasikal.

"Saya minta kepada kepala sekolah pengawas salah satu yang dilakukan sebelum melakukan perencanaan pembelajaran assessment diagnostik, yaitu kenali dulu siapa anak kita ada berapa anak yang memiliki potensi dan rendah, itu harus dipahami oleh guru sebagai awal merencanakan pembelajaran kurikulum," Pungkasnya .

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar