Ancaman Populasi Harimau Sumatera, Diburu Sampai Penyempitan Habitat

KBRN, Palembang : Masa depan Harimau Sumatera dinilai semakin suram seiring masifnya perburuan terhadap satwa yang dilindungi tersebut.

Populasinya yang tersebar di tanah andalas ini hanya sekitar 600-700 ekor, berdasarkan data dari sejumlah organisasi pemerhati keberlangsungan Harimau Sumatera.

BKSDA dibawah naungan Kementerian Lingkungan hidup pun juga mencatat jumlah yang tak jauh beda. Namun ada kabar baiknya yaitu, jumlah individu Harimau Sumatera telah meningkat 30% dari data tahun 1996, berdasarkan data dari Forum HarimauKita.

Meski demikian, berbagai ancaman masih menghantui satwa karismatik tersebut. Koordinator Tiger Heart Sumsel, sebuah organisasi pemerhati Harimau Sumatera jaringan Forum Harimau Kita, M. Julian Aji Saputra mengungkapkan ancaman terhadap Harimau Sumatera bisa dibagi dalam dua kategori, yaitu ancaman langsung dan tidak langsung.

“Ancaman langsung itu perburuan liar dan ancaman tidak langsung yaitu mengecilnya habitat akibat fragmentasi lahan,” jelasnya saat hadir dalam dialog interaktif melalui kanal RRI Pro 1 Palembang belum lama ini.

Julian menambahkan, sebaqai satwa ikonik yang bernilai budaya bagi sejumlah daerah sayangnya Harimau Sumatera masih menjadi target para pemburu.

Selain dijadikan koleksi, beberapa bagian tubuh harimau dianggap bisa dibuat ajimat dan kebutuhan klenik lainnya.

“Biasanya untuk dijadikan koleksi para kolektor karena kan ada kebanggan atau gengsi pemiliknya menampilkan satwa ini setelah dikeringkan dan diubah menjadi barang pajangan. Selain itu, kepercayaan tubuh harimau mengandung mistis juga masih besar bagi sebagian masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kaur Data, Informasi, Perpetaan dan Kehumasan BKSDA Sumsel Octavia Susilowati mengungkapkan, meski tak sebanyak daerah lain di Sumatera, sebaran harimau terbanyak di Sumsel berada di sekitar wilayah Pagaralam, Lahat dan sekitarnya.

Ia tak menapik perburuan hariamau dewasa ini masih masif. Bekurangnya rumah bagi harimau akibat melebarnya pembukaan hutan untuk lahan kebun/pertanian membuat Harimau Sumatera terancam.

Akibat terbaginya habitat Harimau Sumatera dengan lahan perkebunan/pertanian menganggu ekosistem dan berdampak pada berkurangnya hewan mangsa harimau.

“Berkurangnya mangsa bagi harimau di hutan itu akan membuat harimau kehilangan sumber makanan, karena kita tau kan harimau berada pada puncak rantai makanan,” katanya. Harimau akan keluar dari wilayahnya dan mencari mangsa lain. Peristiwa harimau masuk ke pemukiman warga karena salah satunya harimau sudah tak menemukan mangsa lagi di wilayahnya,” tuturnya.

Terkait konflik hewan buas itu dengan manusia, menurut Octavia, sebetulnya jarang sekali terjadi. Justru dari pengalaman tim BKSDA Sumsel di lapangan, hewan yang sering berkonflik dengan manusia adalah beruang madu.

“Manusia bukan mangsa utama harimau ya, artinya jika ada peristiwa itu sebenarnya disebabkan oleh banyak faktor, seperti tadi diungkapkan karena mangsa mereka sudah berkurang, atau bisa jadi juga karena perburuan dan manusia masuk ke wilayah mereka,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar