Tentang Rindu Yang Terlarang

images_36.jpg

KBRN, Palembang : Sudah sepuluh bulan terjadi wabah virus corona di Indonesia. Sekolah-sekolah termasuk perguruan tinggi diliburkan dari proses belajar mengajar secara tatap muka, dan selama itu juga,  hampir seluruh sekolah dan perguruan tinggi menyelenggarakan proses belajar mengajar secara online (daring) dengan berbagai metode yang digunakan.

Hingga kini, kondisi tak menentu kapan waktu tatap muka kembali dibuka terus menjadi perdebatan. Sekalipun sekarang sudah masuk masa new normal, tapi masih banyak sekolah-atau perguruan tinggi masih melaksanakan proses belajar secara online (daring) dipenghujung tahun ajaran ini. Walaupun ada sekolah yang mulai melakukan proses belajar mengajar secara tatap muka tapi tetap pelaksanaannya tidak secara normal layaknya proses belajar mengajar seperti selama ini sebelum terjadinya pandemi.

Begitu banyak dilema yang dirasakan dari efek proses belajar mengajar secara online (daring), baik bagi murid, mahasiswa  maupun bagi guru dan dosen. Diantara efek yang sangat dirasakan bahwa pandemi ini mengajarkan kita “artinya merindu”, mengajarkan kepada kita bahwa “rindu itu memang berat” dan tidak cuma “Dilan” saja yang merasakan beratnya rindu. Tetapi ternyata murid dan guru pun merasakan beratnya rindu, tapi rindu yang saat ini masih terlarang, hanya bisa menahan rindu tapi tidak bisa bertemu karena terhalang dengan wabah corona ini.

Tidak cuma orang tua murid yang bertanya “kapan anak-anak masuk sekolah lagi” tapi bagi gurupun  juga sering bertanya-tanya kapan anak-anak masuk sekolah lagi. Karena berbulan-bulan mereka tidak mengajar langsung ke kelas, tidak melihat dan bertemu murid-murid secara langsung. Ada kerinduan yang mendalam dengan semua itu, dengan suasana sekolah, dengan suasana di dalam kelas dan murid. Kini guru, hanya bisa berbicara dan menatap wajah murid dari balik layar handphone ataupun laptop. Guru hanya bisa memendam rasa rindu itu dengan tetap berdo’a agar pandemi ini segera berahir.

Semoga rindu ini segera berlalu seiring waktu. Cukup sudah Corona membelenggu rindu untuk bertemu. Semoga wabah ini segera berlalu sehingga tidak adalagi rindu yang terlarang.

Ditulis : Hasandri Agustiawan, Redaktur Senior RRI Palembang

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00