Minyak Goreng Langka, Disperindag : Tunggu Saja, Lagi Dikirim

Warga antre saat operasi pasar minyak goreng kemasan murah di Pasar Alang-Alang Lebar Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (12/1/2022). Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bekerjasama dengan distributor PT Indo Karya Internusa menggelar operasi pasar minyak goreng kemasan murah dengan harga Rp14.000 per liter di 19 titik yang dilaksanakan dari 12 Januari hingga 28 Januari 2022 dengan total minyak goreng sebanyak 52 ton. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU

KBRN, Palembang : Minyak goreng kemasan saat ini menjadi barang yang sulit dicari pasca turun harga. Dari pantauan RRI di sejumlah mini market dan pasar retail modern, Jumat (21/1/2022) minyak goreng kemasan tidak tersedia di rak penjualan. Kondisi ini membuat warga semakin sulit mendapatkan minyak goreng.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan, Ahmad Rizali, mengungkapkan, kondisi ini dikarenakan mekanisme pasokan dari distributor yang membutuhkan waktu. Tingginya permintaan minyak goreng membuat stok yang ada dipasaran langsung habis terjual. 

"Itu salah satu dampak penerapan minyak goreng satu harga. Warga sangat antusias sehingga dalam waktu satu hari saja semua stok di toko retail langsung habis terjual," ujar Rizali.

Rizali mengatakan, kondisi ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Pihak distributor akan melakukan pengiriman ke toko retail modern untuk segera memenuhi kebutuhan pasar.

"Tunggu saja, ini sedang dalam tahap pengiriman. Mungkin sekitar 2-3 hari ini sudah diisi kembali," jelas Rizali.

Kelangkaan minyak goreng yang terjadi juga sempat menimbulkan kecurigaan akan adanya upaya penimbunan. Terkait hal itu, Rizali membantah isu yang menyebut adanya upaya penimbunan yang dilakukan pihak-pihak tertentu ditengah kelangkaan stok minyak goreng. 

Hal ini dikarenakan hingga hari ketiga pasca ditetapkannya peraturan minyak goreng di harga Rp 14.000 sejak Rabu (19/1/2022) stok minyak goreng di ritel modern masih terpantau langka. 

"Kalau ditimbun tidaklah, untuk apa ditimbun, harga minyak goreng kan lagi turun, kalau lagi naik mungkin ada upaya penimbunan," tegas Rizali. 

Rizali pun menghimbau masyarakat supaya tidak melakukan panic buying sebab program minyak goreng satu harga akan berlangsung selama 6 bulan atau hingga Juni mendatang. 

"Sosialisasi ke masyarakat memang belum sepenuhnya utuh, mungkin masyarakat menganggap kebijakan ini hanya berlangsung beberapa hari, padahal kebijakan ini berlaku selama 6 bulan ke depan, kemudian akan disusul pada kebijakan berikutnya, jadi tidak perlu panic buying," tutup Rizali.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar