Tingkat Fatalitas Kecelakaan Tinggi, Jasa Raharja Gencarkan Edukasi

Kepala Cabang PT Jasa Raharja Sumatera Selatan, Ahmad Haris. (Foto: Dok. Jasa Raharja)

KBRN, Palembang : Sebanyak Rp.31 milyar dana santunan telah diserahkan PT Jasa Raharja Cabang Sumatera Selatan kepada korban kecelakaan dan ahli waris lalu lintas jalan dan penumpang alat angkutan umum. Dana itu disalurkan berdasarkan klaim korban kecelakaan yang terjadi di seluruh kabupaten/kota di Sumatera Selatan dari awal tahun hingga bulan Juli 2022.

Kepala Cabang PT Jasa Raharja Sumatera Selatan, Ahmad Haris, mengungkapkan, besaran dana santunan yang disalurkan mengalami peningkatan sebesar 18,46 % dibandingkan tahun 2021. Tidak hanya itu, tingkat rasio klaim juga menunjukkan peningkatan di beberapa daerah.

“Salah satunya di daerah Muratara, ada beberapa kejadian yang cukup menonjol di sana. Rasio klaim tinggi juga terjadi di Ogan Ilir,” ujar Haris dalam keterangannya kepada RRI, Jumat (12/8/2022).

Haris mengatakan, rata rata korban kecelakaan lalu lintas di wilayah Sumsel masih di dominasi usia produktif 26 – 55 Tahun sebesar 41,34 %. Korban kecelakaan didominasi dari jenis kendaraan roda dua.

“Korban lebih banyak dari pengendara R2 sekitar 62 persen. Pengemudi truk juga cukup tinggi angkanya mencapai 20 persen dari total jenis kecelakaan,” beber Haris.

Menurut Haris, peningkatan juga terjadi pada tingkat fatalitas korban kecelakaan. Dari catatan Jasa Raharja, biaya perawatan yang digelontorkan mengalami peningkatan sekitar 20 persen dibandingkan tahun lalu sementara angka korban meninggal meningkat sebesar 9 persen. Berkaca dari data itu, Haris mengaku telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk meminimalisir tingginya fatalitas korban kecelakaan yang terjadi.

“Kami mengedukasi beberapa komunitas maupun masyarakat dengan harapan korban kecelakaan dapat ditangani secara cepat. Kami telah bekerjasama dengan 66 RS sehingga koban dapat dirujuk secara cepat dan tertangani dengan baik,” tandasnya.

Edukasi yang dilakukan Jasa Raharja menyasar kalangan usia produktif dari sejumlah komunitas pengendara seperti ojek/driver online.

“Kalangan ini kami anggap memiliki resiko yang cukup tinggi karena mobilitas mereka yang tinggi di jalanan,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar