Tingkatkan Zero Konflik dengan Budaya Kerukunan

Dialog Interaktif RRI palembang, Beranda Nusantara

KBRN, Palembang: Tidak hanya mempertahankan, Sumatera Selatan (Sumsel) juga memiliki potensi untuk meningkatkan zero konflik di wilayahnya. Hal ini disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumsel, Mal’an Abdullah saat dialog interaktif Beranda Nusantara, Moderasi Beragama dalam Harmoni Nusantara, dengan tema “Menjaga zero Konflik SARA di Sumsel” di Programa 1 RRI Palembang, Kamis, (31/3/2022)

Mal’an menegaskan zero konflik dapat ditingkatkan dengan mengembangkan budaya kerukunan baik antar suku, agama maupun ras.

“Jangan beranggapan konflik SARA tidak akan ada tapi kita harus kerja kerja kerja dalam mempertahankan dan meningaktkan Sumsel zero konflik SARA," tegasnya

Menurutnya, selain budaya rukun, budaya damai, dan juga budaya kerja produktif merupakan upaya untuk kemajuan bersama.

“Tema ini penting dan sangat baik yang dilakukan RRI, karena kebetulan provinsi kita zero konflik,” ucapnya.

Sementara itu, Budayawan Sumatera Selatan, Vebri Al Lintani yang juga menjadi narasumber dialog tersebut sepakat, budaya kerukunan menjadi salah satu upaya menjaga zero konflik.

“Kita selalu membanggakan zero konflik di Nusantara,” ucapnya

Vebri menilai dari sisi sejarah, masyarakat sudah terbiasa dalam menjaga perang antar SARA. Belum ada catatan konflik SARA di zaman Kerajaan Sriwijaya saat didatangi bangsa - bangsa lain.

“Mungkin dahulu ada konflik saat zaman primitif karena kita budaya perburuan,” ucapnya

Begitu juga sesudah zaman kerajaan, Sumsel memilliki istilah Batang Hari Sembilan, yang artinya sembilan sungai mewakili  suku suku lain, sehingga menjadi pengaruh dalam mengatasi konfilk dari sisi alam.

Sedangkan dari sisi budaya, Vebri menceritakan Sumsel memiliki Puyang yang banyak berkontibusi dalam konflik antar suku.

“Karena ketika konflik muncul, puyang di Sumsel ini saling bertaut, umumnya masyarakat menghargai keturunan puyang masing masing,” jelas Vebri.

Menangggapi hal tersebut, Assiten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemprov Sumsel, Rosidin memastikan Pemprov Sumsel memberikan atensi besar keharmonisan masyarakat secara umum,  terkhusus persoalan agama sebagai salah satu upaya menciptakan Sumsel zero konflik yang menjadi syarat penting pembangunan mental spiritual maupun pembangunan material.

“FKUB sudah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam menciptakan suasana keagamaan yang kondusif, meskipun terdapat perbedaan, namun yang terpenting bagaimana semua pihak menjaga kerukunan itu,” tegasnya saat menjadi narasumber Dialog Nusantara di RRI Palembang mewakili Gubenrur Sumatera Selatan, Herman Deru, Kamis, (31/3/2022).

Menurutnya, budaya kerukanan tidak selalu harus memiliki persamaan, namun harus dapat menghargai perbedaan agar tercipta kedamaian.

“Apalagi sebentar lagi kita Ramadhan, meskipun untuk bersatu dalam perbedaan itu sulit, semoga dengan Ramadhan semakin tercipta kerukunan,” ungkapnya.

Sementara di bidang umum, Pemprov Sumsel juga memberikan atensi yang luar biasa terkait tidak terjadi konflik, baik konflik vertikal, maupun horizontal.

“Sebagai Assiten 1, rasanya setiap hari persoalan sosial mumcul dari minyak goreng dan batas tanah, namun kita berupaya dikelolah dengan baik, agar tidak terjadi konflik,” sambungnya.

Diakhir dialog interaktif, ketiga narasumber juga menyepakati pentingnya bijak dalam bermedia sosial dalam mengatasi konflik SARA.

“Kita ini sering sekali tanpa baca isi, hanya melihat judul langsung share, sehingga rentan memicu konflik,” tutup Rosyidin.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar