Dayumin Pedayung Putri, Penerus Jejak Sang Ayah

Dayumin Atlet Cano Putri Sulawesi Tenggara di Kawasan Teluk Youtefa kota Jayapura Provinsi Papua (Dok. RRI Kendari)

KBRN, Kendari: Nama Dayumin, sudah tidak asing lagi di dunia olahraga dayung di Sulawesi Tenggara (Sultra) maupun Nasional. Sejumlah prestasi telah ditorehkan dibeberapa iven hingga ketingkat Asia. 

Dayumin yang lahir di daerah terpencil desa Banu-Banua Jaya kabupaten Buton Utara 2 September 1992, sudah mampu mengukir prestasi sebagai atlet dayung yunior diusia 15 tahun atau sekitar tahun 2007 silam.

“Saat itu saya masih menjadi atlet PPLP Sultra bersama beberapa teman yang juga gabung di Pelatnas tahun 2010,” tutur Dayumin, di sela-sela latihan ringan jelang waktu pertandingan dayung Canoeing pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua di teluk Youtefa kota Jayapura provinsi Papua, Rabu (22/9/2021). 

Bagi Dayumin, olahraga dayung bukan hal baru karena sudah terbiasa dilakukan sejak kecil, apalagi sang ayah bernama Ramuddin juga adalah mantan atlet dayung Nasional.

“Jadi memang cita-cita saya adalah mengikuti jejak ayah yang dulunya juga pernah menjadi atlet Nasional, tapi kami ini sudah memiliki bakat alam karena kampung kami lahir dan besar di wilayah kepulauan,” ujar Dayumin, anak pertama dari empat bersudara.

Dayumin mengaku, pelatih pertama saat menjadi atlet dayung adalah sang ayah, karena setiap saat selalu memberi motifasi dan arahan mengenai teknik mendayung yang benar dan sebagainya.

“Saya mulai berprestasi tahun 2008 junior pada Kejurnas PPLP di Indramayu Jawa barat serta Kejurnas PPLP di Bali dengan merebut medali perak. Tahun 2009 kejuaraan senior di Makassar Sulawesi Selatan, terus pemanggilan Pelatnas  2010 untuk Asian Games di China,” jelasnya.

Tahun 2010, nomor spesialis Dayumin saat itu di Kayak satu, menyusul tahun 2015 pindah di nomor Cano (C1) karena nomor Cano putri merupakan nomor baru di Indonesia dan dilagakan di Olympiade. 

“PON XX Papua ini merupakan PON ke- 4 bagi saya dan ini merupakan PON terakhir saya karena terkait batasan usia. Jadi berikutnya saya akan menjadi pelatih untuk menularkan ilmu yang saya peroleh selama ini kepada atlet-atlet junior agar mereka bisa mengikuti jejak kami,” kata Dayumin, peraih medali emas di nomor Cano pada PON XIX 2016 di Jawa Barat.

Di Pada PON XX Papua ini, Dayumin bertekad kembali merebut medali emas padai nomor Cano dua (C2)  putri dengan jarak 500 meter dan Cano satu (C1) putri jarak 200 meter.  

“Mudah-mudahan PON kali ini saya bisa persembahkan medali emas untuk daerah saya dan terutama untuk orang tua saya,” janji Dayumin.

Dayumin juga meminta pemerintah daerah menyiapkan asrama tempat latihan atlet senior. Asrama PPLP saat ini juga dapat direnovasi agar atlet merasa nyaman berlatih ditambah lagi dengan penyediaan sarana latihan memadai sehingga selalu ada generasi atlet dayung untuk termotifasi memacu prestasi hingga keringkat dunia. 

“Saya sering berbagi pengalaman dengan adik-adik senior bahwa untuk menjadi sang juara itu tidak mudah, harus membutuhkan kerja keras dan disiplin berlatih,” cetusnya.

Pada PON XX Papua ini, Dayumin  yang sudah menjadi ASN di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sejak 2018, mengaku optimis jika target dayung Sultra merebut 7 medali emas, dapat tercapai bahkan bisa lebih. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00