Kisah Nabi Muhammad Seorang Pebisnis Jujur

Foto: Istimewa

KBRN, Jakarta: Kisah hidup Rasulullah SAW memang penuh dengan hikmah, meskipun beliau seorang nabi dan rasul pilihan Allah, hidupnya tidak lantas selalu bahagia dan mudah. 

Beliau juga tetap menerima cobaan dan tantangan dalam berdakwah menyebarkan agama Islam. Kesabaran, kegigihan, dan semangat beliaulah yang harus kita jadikan inspirasi dalam menjalani kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang diridai oleh Allah SWT.

Pemiliki nama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan ini, lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M. 

Pada masa pra kenabian terjadi sejak Muhammad dilahirkan pada 571 M hingga 611 M. Masa ini berlangsung selama 39 tahun dan saat itu Muhammad berusia 39 tahun.

Pada usianya ke 40 tahun, Muhammad telah menerima wahyu dan mendapatkan gelar al-Amīn peroleh semasa dewasa. Pengalaman bisnisnya ia peroleh dari realitas sosial, ketika ia mengunjungi beberapa pasar dan festival perdagangan, serta kunjungan ke negara Syam, sebuah negara yang menjadi sentral perdagangan dunia pada saat itu.

Muhammad ketika masa kecilnya menjadi penggembala binatang dengan penghasilan yang tidak banyak. Pekerjaan ini ia lakukan dengan ter- paksa hingga ia di bawah asuhan Abu Thalib. Muhammad sadar bahwa meng- gembala bukan profesinya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta membantu ekonomi Abu Thalib, Muhammad bekerja sebagai pegawai Khadijah, seorang janda kaya raya. Pamannya memperkenalkan Muhammad kepada Khadijah dan melamar- kannya menjadi karyawannya. 

Abu Thalib merupakan salah satu keluarga yang selalu mendorong Muhammad untuk menjadi pebisnis. Ketika Abu Thalib sudah tua, ia memanggil Muhammad dan berkata: 

“Hai anak saudaraku, sebagaimana telah kamu ketahui bahwa pamanmu ini sudah tidak punya kekayaan lagi, padahal keadaan sudah sangat mendesak, maka alangkah baiknya jika kamu mulai berniaga dan sedikit demi sedikit hasilnya dapat kamu pergunakan untuk kepentinganmu sehari-hari”.31 

Muhammad mengikuti nasihat pamannya, dan profesi pebisnis ini yang kemudian ia tekuni hingga ia menjadi seorang nabi. Muhammad dikenal sebagai orang yang jujur dalam perkataan dan perbuatannya. 

Selama menjadi karyawannya, cerita tentang keberhasilan Muhammad berdagang sampai terdengar Khadijah. Beberapa karyawannya menceritakan pengalamannya selama mendampingi Muhammad berdagang. Mendengar perilaku baiknya, muncul keinginan Khadijah mempersuami Muhammad.

Pernikahan Muhammad dengan Khadijah merupakan pasangan yang sangat cocok. Sewaktu Muhammad masih menjadi karyawan Khadijah, ia dikenal sebagai pekerja keras, ulet dan jujur. 

Sementara Khadijah adalah janda kaya raya. Dengan demikian maka Muhammad harus berjuang keras untuk menjalankan kekayaan yangdimiliki istrinya.

Dalam buku prof. Afazul rahman dalam bukunya yang berjudul “Muhammad a Trader”, Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW relevan diterapkan dalam bisnis modern. 

Ternyata jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry Fayol pada abad ke-19 mengangkat prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin ilmu, Rasulullah SAW sudah menerapkan dalam kegiatan berdagangnya. Prinsip manajemen bisnis apa yang dijalankan Muhammad SAW sehingga bisnis junjungan kita itu mendapatkan kesuksesan spektakuler pada zamannya. 

  • Prinsip manajemen bisnis modern yang beliau jalankan yaitu:
  • Kepuasan pelanggan (customer satisfaction),
  • Pelayanan yang unggul (service exellence),
  • Kemampuan,
  • Efisiensi,
  • Transparansi (kejujuran),
  • Persaingan yang sehat dan kompetitif.

Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Ketika menjadi kepala negara, Rasulullah SAW mentransformasian prinsip-prinsip bisnisnya menjadi pokok-pokok hukum. 

Berdasarkan hal itu, beliau melakukan penegakan hukum pada para pebisnis yang nakal. Beliau pula yang mengenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. 

Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi bisnis yang dibangun atas dasar saling setuju.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00