Petani Kopi Lereng Muria Mulai Panen

KBRN, Kudus :  Petani kopi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, menggelar tradisi 'Wiwit' kopi atau dimulainya panen tanaman kopi.

Tradisi 'Wiwit' dilakukan karena pada bulan Juni hingga Agustus 2022 merupakan jadwal panen tanaman kopi di Kawasan Pengunungan Muria,  Jumat (24/6/2022).

Menurut Ketua Kelompok Tani Kopi Desa Colo Purbo Wiyanto, tradisi 'wiwit' kopi ini merupakan wujud ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hasil tanaman kopi yang melimpah.

"Wiwit kopi ini diikuti pulahan petani kopi di Colo. Ini wujud syukur kepada Tuhan," kata dia saat ditemui di Kebun Kopi Mbedagan Ngasem Kembar, Desa Colo, Kecamatan Dawe.

Sebelum acara dimulai, lanjut Purbo, petani beserta keluarganya lebih dahulu menyiapkan berbagai sesaji untuk dibawa ke perkebunan.

"Petani membawa ambengan. Ambengan itu makanan tradisional seperti tempe, tahu, ayam, telor, nasi serta sayuran yang dibawa ke areal perkebunan kopi," jelasnya.

Kemudian, ambengan didoakan oleh tokoh agama setempat, lantas dimakan bersama-sama.  Setelah makan bersama, petani kopi di Lereng Muria memanen kopi sebagai tanda dimulainya panen raya tanaman kopi.

Ia mengakui hampir semua tanaman kopi petani sudah terlihat berbuah merah sehingga sudah saatnya dipanen.

"Setidaknya bulan ini sudah bisa dimulai atau menunggu bulan Juli hingga Agustus 2022 mendatang," ujarnya.

Untuk jenis kopi yang di tanam di Pegunungan Muria berupa robusta. Dengan harga jual Rp. 500 ribu per 1 kwintal kopi brongkol atau kopi habis dipanen.

"Satu kwintal kopi brongkol dihargai Rp. 500 ribu dari pengepul. Kalau kopi kering beras seharga Rp. 25 ribu perkilo," ujar dia.

Para petani, kata dia, berdoa agar hasil panen tanaman kopi tahun ini juga melimpah, sehingga kesejahteraan petani bisa meningkat. Apalagi, komoditas tersebut kini tidak hanya diminati masyarakat lokal, melainkan dari berbagai daerah di Jateng. (RK)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar