Desa Wisata Sumogawe, Transformasi Peternak Melek Pariwisata

Rest Area Sumogawe
UMKM di Toko Milik Siyamto Dari Hasil Susu Sapi
Ikon Sapi Rest Area Sumogawe

KBRN, Semarang : Kampung Susu Sumogawe merupakan salah satu desa wisata di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Desa produsen susu sapi ini biasa memasok hasil produksi ke wilayah Ungaran, hingga Kota Semarang.

Warga Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Siyamto salah satu peternak yang ikut merintis Desa Wisata Sumogawe. Desa ini berada di lereng gunung Merbabu, arah menuju ke tempat wisata Kopeng. Lebih dari 90 persen penduduk Desa Sumogawe merupakan peternak sapi. Siyamto sendiri mulai beternak sapi sejak tahun 2008 hingga kini.

“Sebelum menjadi desa wisata, eksistensi peternakan berjalan seperti biasa. Cuma susu hanya masuk KUD tidak ada yang mengolah. Adanya desa wisata ini banyak orang mencari susu, sebagian disetor ke KUD sisanya dijual ke orang yang berkunjung kan harganya  naik. Memang pelaku UKM saja yang berdampak positif. Dulu hanya dititipkan ke daerah tetangga sepeti kota Semarang dan Kota Salatiga. Namun sekarang setelah menjadi desa wisata bisa dijual sendiri,” katanya, Minggu (26/6/2022).

Seiring berjalannya waktu, upaya pemerintah desa ingin menaikan kelas warganya dengan berencana membuat Desa Sumogawe menjadi desa wisata, mulai dirintis tahun 2017. Siyamto mengatakan, mulanya hanya mengandalkan produk olahan makanan berbahan baku susu sapi, seperti sabun, permen, dan yogurt yang secara rumahan diproduksi warga.

“Kalau susu sudah jelas laku, karena ada beberapa KUD besar. Cuma target kita itu, peternak tidak hanya menjual susu. Lebih dari itu, peternak dapat mengenalkan sapi perah ke anak-anak sekolah dengan mendatangkan mereka ke kandang sapi warga. Jadi tidak hanya beternak susunya saja yang dijual, tapi cara berternaknya juga dijual. Contoh ditempat wisata beli wortel Rp 5 ribu untuk memberi makan kelinci. Nah kalau ini diterapkan disini, misal Rp 3 ribu saja anak-anak ini beli rumput terus memberi makan sapi. Kan cukup bagus ini potensinya,” imbuhnya.

Merintis desa wisata ini merupakan hal yang tidak mudah dilakukan Kepala Desa Sumogawe, Marsudi Mulyo Utomo. Selain finansial, mengubah cara pikir warga untuk sadar dengan kepariwisataan menjadi pekerjaan yang sampai saat ini terus dilakukannya.

“Berlahan-lahan, kami mengalami permasalahan. Seperti soal finansial, masyarakat yang kurang ngerti soal desa wisata edukasi, jualan dan persoalan lahan. Tapi saya bertekad dengan pokdarwis. Berjuang desa wisata harus jadi. Setelah itu bersama pokdarwis, saya danai dengan dana desa tapi minim sekali,” katanya.

Setelah dirintis dan mencoba mengembangkan desa wisata, kini Desa Sumogawe memiliki rest area yang dibangun dari bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah senilai Rp 1 miliar. Menurut Marsudi, bantuan sebesar itu sekaligus sebagai bentuk dukungan Pemerintah Provinsi terhadap perkembangan desa wisata.

“Alhamdulillah tahun 2020 saya mendapat bantuan dari Pak Gubernur Rp 1 miliar, saya belikan dua mobil shuttle, bangun rest area dan juga ada gazebo, patung sapi dan parker,” ujarnya.

Kunjungan pariwisata di Desa Sumogawe lambat laun kian meningkat, wisata edukasi yang ditawarkan mendapat respon dari masyarakat luas. Hal itu diakui Siyamto yang juga Ketua Pokdarwis Desa Sumogawe yang ditemui di Rest Area Sumogawe.

“Sementara ini kita lagi tahap promosi, setiap hari kepakai sih pendopo di Rest Area Sumogawe. Jadi kadang sehari sampai dua kali pada weekend. Kami juga masih punya cita-cita membangun sentra UKM di rest area ini dengan harapan setiap orang yang melintas menuju kopeng dapat singgah beli oleh-oleh khas desa kami,” imbuhnya.

Sementara, Bagian Pemasaran Desa Wisata Kampung Susu, Sri Wuryani merasa senang dengan adanya rest area ini. sehingga, Pokdarwis mampu mengembangkan Desa Wisata Kampung Susu dengan baik. Dulu awalnya banyak kendala. UMKM tidak tertata dengan rapi, baik secara tempat karena belum punya rest area.

“Kalau ada kunjungan kita tempatkan di balaidesa ala kadarnya, atau kalau tidak kita ke warga. Alhamdiulillah mendapat bantuan dari Gubernur ini luar biasa. Kami bisa jalankan Desa Wisata Kampung susu ini dengan baik, dan UMKM dapat tertata rapi karena di sini ada tempat pameran, kita bisa seluruh umkm sekitar 50-60 bisa tercover. Kalau ada kinjungan mereka bisa menitipkan produk di pamerkan di tempat yang disediakan desa melalui bantuan tersebut,” katanya.

Saat ini, Desa Wisata Kampung Susu menawarkan paket wisata. Mulai dari edukasi produk dan susu perah hingga rest area untuk menikmati kuliner khasnya.

“Paket wisata mulai harga Rp 40 ribu sampai Rp 200 ribu per orang. Saat ini per Minggu ada dua sampai tiga kelompok yang berkunjung, kebanyakan siswa dan ibu-ibu PKK,” tandasnya.

Suasana yang sejuk dengan pemandangan Gunung Merbabu, di Rest Area Desa Sumogawe ini pun diakui oleh Bashori, warga Sukoharjo, yang menikmati weekend di rest area ini.

“Suasana disini (rest area Desa Sumogawe) cukup nyaman dengan pemandangan yang indah. Saya sengaja setiap weekend nyari tempat untuk liburan. Kebetulan ini bersama teman-teman pensiuan TNI AD yang memilih rest area ini untuk berkumpul. Ada beberapa Gazebo yang bagus dengan background kami Gunung Merbabu,” imbuhnya.

Tidak hanya pengunjung, keberadaan rest area Desa Sumogawe ini pun disambut positif warga setempat, Yani warga Dusun Ngroto merasakan betul manfaat adanya rest area yang dibangunkan Pemprov Jateng itu. Ia kini dapat berjualan di tenant yang disediakan di rest area Desa Sumogawe.

“Dulu sini rumput-rumput kan tanah bengkok (kebun atau tanah lapang milik desa) terus diadakan pasar UMKM khusus warga Sumogawe tiap minggu, itu tahun 2020an. Lama kelamaan pemerintah desa memperbaiki, hingga dapat bantuan dari Pemerintah provinsi. Sekarang dipercantik ada kenaikan, soalnya kalau kesini seneng parkiran luas, ada spot foto, tempat bersih dan nyaman,”imbuhnya.

Saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan berbagai upaya untuk mendorong sektor pariwisata agar bangkit pasca pandemi Covid-19. Salah satunya melalui pendampingan desa atau dana alokasi khusus desa yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia akan mendorong optimalisasi desa wisata di tahun 2022 lewat alokasi anggaran Rp 18,5 miliar melalui Disporapar Jateng. Harapannya masyarakat desa dapat menaikan level taraf hidupnya melalui kepariwisataan.

“Kita berikan ruang terhadap daerah wisata, maka sport tourism kita genjot. Kedua partisipasi masyarakat termasuk UMKM kita libatkan sehingga ini bisa menjadi trigger bagi kita agar orang datang berwisata,” tegas Gubernur.

Kasi Pengembangan Daya Tarik Wisata Disporapar Provinsi Jateng Riyadi Kurniawan menjelaskan, bantuan Desa Wisata dilakukan sejak tahun 2020. Saat itu pihaknya sudah menganggarkan Rp 18,5 miliar untuk 100 desa, dan pada 2021 jumlah yang dianggarkan Rp 32 miliar untuk 260 desa.

“Sedangkan di tahun 2022,  anggaran bantuan desa wisata dialokasikan Rp 18,5 miliar untuk 131 desa wisata. Melalui dana pengembangan desa wisata itu, potensi desa diharapkan bisa digali dan menjadi sejumlah sajian pariwisata atau produk pariwisata. Sehingga nantinya kita punya berbagai macam pilihan kepada wisatawan, untuk ditawarkan ke desa wisata yang dikunjungi. Itu sebagai pengungkit ekonomi masyarakat tingkat desa,” jelasnya.

Ditambahkannya, jumlah desa wisata di Jateng juga terus meningkat. Dari yang semula pada beberapa tahun lalu hanya sekitar 500 desa, sekarang naik menjadi 717 desa. 

“Masing-masing desa wisata diharapkan mempunyai keunikan tersendiri, atau memiliki perbedaan antara satu desa dengan desa wisata lainnya," pungkasnya.

Upaya pemerintah memperbanyak desa wisata, didukung oleh Ketua Komisi E DPRD Jateng, Abdul Hamid. Meski demikain ada beberapa catatan yang mesti di perhatikan seperti fokus dan prioritas desa wisata di kabupaten/kota.

“Kita jangan sampai potensi ribuan desa yang hampir 9 ribu desa di jateng ini harus ada klasifikasi yang jelas dan prioritas yang jelas mana yang harus digenjot untuk pengungkit daya wisata di desa lain,” terang Hamid.

Menambahkan, Ketua DPD Asosiasi Perjalanan Wisata Jateng, Joko Suratno menyebut Pemerintah mesti menaruh porsi anggaran yang lebih untuk memulihkan sektor pariwisata tahun 2022 ini. Dari pantauannya rata-rata objek wisata sudah mulai meningkat tingkat kunjungannya. Sehingga perlu adanya dukungan dari sisi anggaran seperti optimalisasi aksesbilitas menuju destinasi wisata hingga pengembangan SDM kelompok sadar wisata.

“Jateng ini memiliki kekayaan yang luar biasa. Modal sosial dan alamnya luar biasa. Saya rasa sektor pariwisata dapat dijadikan prioritas sehingga dapat anggaran lebih dalam pembangunan pariwisata. Kan jateng juga menjadi super prioiritas di kawasan Borobudur,” terangnya.

Dukungan desa wisata baik berupa desa dampingan satu OPD Satu Desa Dampingan ataupun dana bantuan provinsi  Jawa tengah merupakan langkah tepat. Apalagi sektor pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak lantaran pandemi Covid-19 karena adanya pembatasan. Di sisi lain, Desa Wisata menjadi cara dari pemerintah untuk menjadikan warga lebih berdaya dengan mengandalkan potensi dari daerahnya. Seperti kata Bung Karno, yang menyebut Desa menjadi Salah Satu Benteng Pertahanan Negara. Karena itu, kebijakan dan program pembangunan harus menitikberatkan pada pemberdayaan desa.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar