Pendidikan Seks Perlu Dikenalkan Anak Sejak Dini

KBRN, Semarang : Kasus kekerasan sekusal pada anak semakin hari semakin meningkat, hal ini menunjukkan masih lemahnya upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak. Dalam proses belajar, digital native di usia dini lebih tertarik menggunakan media interaktif yang memanfaatkan perkembangan teknologi, diantaranya pemanfaatan animasi. 

Penelitian tentang seri animasi untuk mencegah kekerasan seksual pada anak usia dini untuk selanjutnya dikaji mengenai efektivitasnya sebagai prevensi kekerasan seksual pada anak usia dini.Tim Peneliti terdiri Dr Dini Rakhmawati SPd MPd, Desi Maulia SPsi MPsi Psikolog, dosen Prodi Bimbingan dan Konseling FIP UPGRIS, serta Febrian Murti Dewanto SE MKom Prodi Teknik Informatika FT UPGRIS. 

Gelar diseminasi hasil penelitian DRPM/ Brin skema penelitian unggulan perguruan tinggi pendidikan seksualitas bagi anak usia dini: seri animasi Miko dan Mila digelar melalui aplikasi zoom. Kegiatan dibuka Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPGRIS Dr Seno Warsito MPd.

Hadir dengan pemateri Maftukah SH MH Kepala Seksi Bina Ketahanan Keluarga Balita dan Lansia, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Semarang. Kedua, Nunik Supriyati SPd MPd Pengawas TK Kecamatan Semarang Selatan, dari Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Seno Warsito megatakan, jika penelitian unggulan perguruan tinggi pendidikan seksualitas bagi anak usia dini sangat penting untuk disampaikan kepada masyarakat.

“Agar kasus kekerasan yang terjadi khususnya pada anak tidak terus meningkat. Anak sebagai korban akan mengalami trauma yang berkepanjangan. Sehingga dengan adanya kegiatan ini diharapkan mampu membuka hati masyarakat lebih sadar terhadap pendidikan seksualitas anak,” kata Seno.

Kegiatan diikuti 104 peserta secara daring. Ada 41 peserta dari Pokja PKK/ Bina Keluarga Balita di Dinas Pengendalian Penduduk Kota Semarang. Kemudian, 52 peserta guru TK dari Ikatan Guru TK Indonesia (IGTKI) Kota Semarang, yang dalam kegiatan ini koordinasi difasilitasi oleh oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Selanjutnya, sembilan Kepala Sekolah Penelitian Seri Animasi Pendidikan Seksual Bagi Anak Usia Dini periode tahun 2019-2021. Maftukah menjelasakan, materi tentang pentingnya pendidikan seksualitas anak usia dini.

“Upaya pengajaran, penyadaran, dan pemberian informasi tentang masalah seksual. Para ahli psikologi menganjurkan agar anak-anak sejak dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seks. Pendidikan seks didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual dan akibat-akibatnya,” katanya.

Pemerhati masalah anak dan remaja, Zulia Ilmawati Psikolog mengatakan, pokok-pokok pendidikan seks bersifat praktis, yang perlu diajarkan kepada anak. Seperti di antaranya menanamkan rasa malu pada anak. Kedua, menanamkan jiwa maskulinitas pada laki-laki dan feminitas pada perempuan. Ketiga, memisahkan tempat tidur mereka.

Keempat, mendidik anak agar menjaga alat kelaminnya. Kelima, mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata. Keenam, mendidik etika berpakaian. Pada kesempaan itu, Nunik menjelaskan materi Peran Guru dan Orangtua Tentang Edukasi Pendidikan Seks pada Anak.

”Berikan pendidikan seksual pada anak sedini dan sesering mungkin. Ajaklah anak berdiskusi secara sederhana dan menyenangkan.  tidak harus mengatur kapan dan di mana diskusi dilakukan, lakukanlah kapan saja ketika situasi mendukung. Misalnya jelaskan bagian tubuhnya ketika sedang memandikan anak, menjelaskan perbedaan tubuh wanita dan pria ketika sedang mengganti popok adik, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Menurut dia, perlu mengajarkan anak untuk tidak menyembunyikan apapun dari orang tua, apabila ada perlakuan yang tidak pantas yang diterima atau terlihat oleh anak meskipun mendapatkan ancaman dari si pelaku.

Selain itu perlu menjalin komunikasi yang baik agar anak tidak merasa enggan untuk berbicara dengan orang tua. Jika orang tua memberi rasa aman pada anak, anak akan merasa nyaman untuk bertanya.

Pendidikan seks bukanlah tentang mendukung anak untuk melakukan hubungan seksual tapi menjelaskan fungsi alami seks sebagai bagiamana diri mereka serta konsekuensinya jika disalahgunakan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00