Mata Elang Dari Polimarin

KBRN, Semarang : Bukan mata elang jika tidak mempunyai nyali dan ketajaman saat melihat masa depan penuh dengan tantangan. Bagi elang pertarungan dan ketangkangsan adalah hal yang biasa dilakukanya jika elang melihat sesuatu didepanya menjanjikan masa depan yang sangat baik. Hal inilah yang membuat semangat Dr. Sri Tutie Rahayu, M.Si, wanita kelahiran Semarang pada tanggal 4 Januari 1960. Tutie, begitu sapaan akrabnya, lahir dari rahim Ibunda Djamilah dan ayahanda yang bernama Bapak Boediono.

Bagaikan elang yang bertengger dipohon, matanya selalu waspada dan awas melihat sesuatu yang ada didepanya, kenekatan, keberanian, tanpa tedeng aling-aling, sehingga Tutie tidak pernah takut kepada siapapun kecuali kepada ALLAH SWT, Tuhan Yang Maha Menguasai. Dengan Keberanianya itulah Tutie kecil banyak mendapatkan julukan dari temen-temenya. Tutie kecil saat berusia balita pernah tinggal bersama orang tuanya di Desa Barutikung, untuk warga Semarang nama baruting tidak asing lagi. Dahulu desa ini penduduknya didominasi preman Semarang yang sadis, karena di desa ini ada bandit terkenal, antara lain Slamet Gundul (preman legendaris sampai-sampai Iwan Fals pun membuatkan lagu khusus buat si preman dengan judul sugali).

Walaupun orang tua Tutie pernah tinggal di desa Barutikung, preman-preman pesisir pantai tersebut tidak ada yang berarni menggangu keluarga Tutie, karena ayahanda Tutie, alm. Bapak Boediono merupakan mantan Tentara “Heiho” Jepang. Hal inilah yang membuat preman segan untuk menggangu keluarga Tutie. Bahkan keluarga Tutie, merupakan keluarga terpandang dan disegani. Setelah Usia Tutie menginjak di atas 5 tahunan, maka keluarga Alm. Bapak Boediono memutuskan untuk Hijrah ke desa Wonodri dengan tujuan utamanya untuk menata masa depan anaknya supaya lebih baik dan sukses dimasa depan. Tutie tinggal di Desa Wonodri sampai lulus kuliah sarjana, menikah dan bekerja sebagai dosen kopertis.  

Sebagai anak kandung wanita satu-satunya alm. Bapak Boediono. Karena sebelum Tutie lahir orang tuanya sudah mempunyai putri angkat yang diambil keluarga Ibunda Djamilah. Tutie kecil tidak dididik layaknya seorang wanita biasa, seperti membersihkan rumah dan memasak termasuk hal-hal yang tidak pernah dilakukan oleh Tutie, karena Tutie lebih suka bermain dengan anak laki-laki. Boediono yakin jika Tutie suatu saat akan menjadi wanita istimewa dan akan menjadi wanita tangguh. Kalau sekedar memasak dan membereskan rumah, Boediono yakin suatu saat nanti Tutie bisa melakukanya dengan belajar sendiri sesuai keadaannya. 

Adapun pesan Boediono kepada Tutie kecil yang  menjadikannya  sosok perempuan berani dan tidak mudah menyerah, adalah prinsip “Nak wani ojo wedi-wedi. Nak wedi ojo wani-wani” (kalau berani jangan pernah takut, kalau takut ya jangan berani-berani), Sosok Boediono memang dominan dalam hidup Tutie. Values of life (nilai-nilai  kehidupan) yang diajarkan oleh Boediono begitu sangat membekas dalam hati Tutie. Didikan penuh keberanian, ketegasan, dan kedisiplinan mewarnai hari-harinya sebagai putri tunggal Boediono. Tutie pun menjadi sangat dekat secara emosional dengan ayahandanya. 

Banyak pesan-pesan yang dituturkan oleh Boediono untuk putri kesayangannya itu. Pesan yang paling membekas bagi  Tutie  adalah saat bapaknya mengatakan, “ Menjadi berani itu harga mati, nduk (bahasa prokem sebutan untuk anak perempuan Semarang). Tapi ingat setiap keberanian jangan kelewat batas, pahami semua filosofi tokoh para pandawa, kenapa masing-masing punya peranannya karena sesungguhnya setiap manusia tidak ada yang sempurna. Itulah kenapa kita harus saling melengkapi dan saling tolong  menolong.  Jika  kamu, nduk, ingin selalu menjadi pemenang, jangan tinggalkan kalimat sakti ini  dan kamu  pasti akan menang. "Asyhadu an laa Ilaaha Illallaahu, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah". Aku bersaksi bahwa Tidak Ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah.”

Kepiawian, keuletan, keberanian, dan kenekatanya bagaikan elang, Tutie pun sangat bersemangat dalam menahkodai berdirinya kampus Politeknik Maritim yang masih berusia bau kencur. Bahkan suara gaungan si mata elang untuk membawa polimarin lebih maju sampai ke telinga RI-1. Tepatnya pada tanggal 20 Juni 2016, Tutie diundang khusus untuk bersilaturrahmi dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta yang didamping timnya dari polimarin. Sebelum Tutie dan timnya diundang ke Istana Negara, pada tahun 2014, Tutie memang  pernah berjumpa dengan Presiden dalam acara Silaturahmi Presiden RI Joko Widodo dengan Masyarakat Indonesia, di Aula KBRI Berlin,  Jerman.  Acara  yang  dihadiri  oleh Diaspora Indonesia-Jerman ini menghasilkan kerja sama yang lebih kokoh dalam dunia kemaritiman  antara Indonesia-Jerman.

Selang dua tahun setelah pertemuan pertama Tutie dengan bapak  presiden  di  Berlin,  Jerman, Tutie diundang ke Istana Negara dalam  kapasitasnya  sebagai  nahkoda Polimarin dari Semarang. Presiden Joko Widodo mengapresiasi kerja keras tim selama ini dan meminta agar kampus Polimarin direvitalisasi agar semakin baik. Bapak presiden menyetujui pengembangan tujuh program studi baru yang akan mulai disiapkan oleh Polimarin Semarang yang salah satunya  adalah  program  double  degree  logistic dan supply chain.

Tentu hal ini merupakan salah satu peristiwa bersejarah dalam hidup Tutie. Dengan semangat penuh percaya diri bagaikan elang terbang tinggi diawan, bahwa cita-cita Tutie mendapatkan sambutan dan dukungan yang luar biasa dari RI-1. Sehingga polimarin bisa berkibar sampai saat ini. Dan semoga generasi penerus estafet pemimpin berikutnya bisa meneruskan impian para tokoh-tokoh pendiri polimarin, khususnya impian Tokoh Wanita Kelahiran Semarang tersebut. 

(Muhamad Habibi).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar