Pentingnya Sanitasi Aman dan Layak Bagi Masyarakat Jatim

Foto : Ir. Toni Indrayanto (Bappeda Jatim)

KBRN, Surabaya : Untuk mendukung upaya pemerintah Jawa Timur dalam pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan khususnya tujuan ke-6, Badan Kerjasama, Manajemen dan Pengembangan Universitas Airlangga (BKMP Unair) dan UNICEF kantor perwakilan di Surabaya, bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Timur melakukan kajian kapasitas dan kondisi pendukung pencapaian target sanitasi aman kabupaten kota di provinsi Jawa Timur.

Dalam pemaparannya, Ir. Toni Indrayanto, dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Timur menyebut di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur, pelayanan sanitasi ada yang tinggi dan ada yang masih rendah."Dalam kondisi sangat ideal beberapa kabupaten/kota pelayanan sanitasinya sudah cukup tinggi namun tidak mengurangi kegiatan-kegiatan di kuadran yang lain. Sehingga skala prioritas di masing-masing kuadran, kalau kita di kuadran yang di atas ini, tentunya sarana sanitasi memang masih kurang namun perilakunya sudah baik," ujar Toni Indrayanto, Kamis (23/9/2021).

"Kalau kita melihat terkait dengan sanitasi di Jawa Timur memang ada indikator-indikator yang disyaratkan. Menjadi sanitasi aman, agak spesifik memang, kalau kita bicara sanitasi yang layak ini, memang sudah ada lembaga atau badan yang secara legal dan diakui. Perlu dicarikan solusi bersama dan tidak menutup kemungkinan indikator-indikator yang ada ini tersampaikan di Pokja Pusat untuk dilakukan perhitungan-perhitungan terkait dengan sanitasi aman. Kalau kita lihat paket, memang kalau sanitasi layak, perbedaannya sangat signifikan dengan sanitasi yang aman. Ini juga menjadi PR kedepan untuk kita bersama," sambungnya.

Sementara itu, Tri Dewi Virgianti, Direktur Perumahan Permukiman BAPPENAS menyebut sangat berkorelasi terhadap produktivitas dan terjadinya stunting serta diare.Tri Dewi Virgianti mengatakan rumah tangga dengan akses sanitasi yang layak memiliki risiko 27% lebih rendah untuk terkena stunting dan 23% lebih rendah terkena sakit diare. Selain itu, penerimaan air yang kurang baik pada tubuh secara tidak langsung juga bisa menurunkan tigkat produktivitas.

“Walaupun nutrisi yang diberikan banyak, tapi kalau air yang dikonsumsi atau digunakan itu tidak bersih, pada akhirnya ya tubuh tidak bisa menyerap nutrisi dengan baik dan bisa berujung pada terjadinya stunting,” jelasnya dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh BKMP UNAIR bekersama dengan UNICEF Surabaya dan BAPPEDA Jawa Timur.

Sanitasi yang aman, menurut Direktur Perumahan Permukiman BAPPENAS, dapat mempengaruhi capaian akses air minum yang aman pula. Di Jawa Timur sendiri, Virgianti menerangkan bahwa sumber air minum yang layak dan aman berdasarkan parameter E.Coli baru mencapai angka 17.04 persen.

Sementara itu, akses air minum layak dilihat dari parameter TDS, E.Coli, pH, Nitrat, dan Nitrirt adalah sekitar 11.09 persen.Untuk meningkatkan capaian sanitasi yang aman, maka Virgi menyebut diperlukan adanya  keselarasan program dan target antara pemerintah daerah dan pusat.

Bagi pemerintah provinsi sendiri, dia menuturkan ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam kaitannya dengan pembangunan sanitasi. Di antaranya yaitu melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan kabupaten atau kota untuk perencanaan dan implementasi kelompok kerja, melakukan review Roadmap Sanitasi Provinsi (RSP), melakukan pendampingan untuk pemuktahiran SSK dan implementasi SSK. (OA)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00