Menanggulangi Terorisme dengan Tetap Mengutamakan HAM

KBRN, Surabaya : Aksi terorisme di Indonesia harus tidak dianggap remeh, segala sesuatu yang harus dilakukan agenda penting yang terus dilakukan untuk melindungi masyarakat. Senada dengan hal tersebut, Program Studi Doktor Ilmu Hukum (DIH) Angkatan 41 Fakultas Hukum (FH) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) forum 17 sesi ke-4 dengan Tema “Penanggulangan Terorisme Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia”. 

Kegiatan yang dilakukan secara berani juga melalui kanal youtube pada Senin (18/1), FGD yang membahas mengenai perkembangan definisi terorisme dengan rasa cinta kepada NKRI ini menggandeng tiga pemantik diskusi yakni Kurnia Wijaya, SH, MH, Dr. Dani Teguh Wibowo , SH, MH dan Dr. Yovita Arie Mangesti, SH, MH, CLA., CMC.

Menurut pemantik diskusi pertama - Kurnia Wijaya, SH, MH, termasuk kejahatan luar biasa kejahatan yang tidak luput dari pengaruh global dan regional. Kurnia juga saat ini aktif sebagai Mahasiswa Doktor Ilmu Hukum di Untag Surabaya. 

Kurnia membahas definisi nasional baik secara global, regional maupun regional. Kurnia yang saat ini tercatat masih aktif dalam anggota aparatur negara republik Indonesia menuturkan jaringan internasional sangat berdampak bagi pelaku di Indonesia. karakteristiknya ingin mengubah ideologi Pancasila menjadi paham tertentu.

“Siapapun yang tidak sepaham dengan mereka, halal darahnya untuk dihabisi,” ujarnya. Adanya prediksi ancaman jaringan teror di 2022 diperlukan sinergi yang kuat agar terorisme di Indonesia berkurang. “Jangan lengah sedetikpun, mari kita bergandengan tangan, bekerja sama, dan sama-sama bekerja kita harus sepakat bahwa NKRI adalah harga mati” terang Pemantik kelahiran kota Madiun. 

Seiring berkembangnya teknologi, tindakan terorisme juga turut bertransformasi. Dr. Dani Teguh Wibowo, S.H., M.H. – Pemantik diskusi kedua menjelaskan pelaku terorisme awalnya didominasi oleh laki-laki, saat ini diikuti perempuan, anak-anak, hingga satu keluarga. 

Indoktrinasi juga semakin masif dilakukan melalui media sosial hingga perkumpulan hobi. “Mereka bisa merakit bom sendiri dan meledakkan sendiri. Pembelian bahannya juga bisa melalui e-commerce” ujarnya. 

Sudut pandang berbeda dari pemantik diskusi ke - Dr. Yovita Arie Mangesti, SH, MH, CLA., CMC., penanggulangan bencana harus merupakan tindakan pelaku, dan saksi secara proposional berdasarkan penghargaan atas harkat dan martabat manusia, rasa kontradiksi harus merupakan tindakan pelaku, dan saksi secara proposional berdasarkan penghargaan atas harkat dan martabat manusia, aman, tidak diskriminatif, dan kepastian hukum.

“Pelaku ini juga dilihat sebagai korban dari adanya suatu indoktrinasi yang salah,” ujar Kepala Prodi DIH. 

Dalam perspektif HAM terdapat dua kepentingan antara pelaku dan korban, dengan sebuah penemuan akan melahirkan peran negara untuk mengakomodir hak manusia untuk hidup, berekspresi, berpendapat, 'memelihara peradaban'. Pada kesempatan FGD ini Yovita menyampaikan cinta Indonesia dan bangsa Indonesia yang beradab. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar