Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unair Terbitkan Kumpulan Cerpen Rona Merah

prosesi peluncuran karya
ramai peminat karya sastra dari Unair

KBRN, Surabaya : Fajar Satryo, Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menerbitkan karya kumpulan cerpen yang berjudul Rona Merah, Jumat ( 13/05  ). Penerbitan tersebut merupakan bagian dari program Skriptorium Teater Gapus Surabaya yang kedua kalinya.

Editor dalam sesi diskusi Sambang Skriptorium, editor dan layouter buku kumpulan cerpen Rona Merah, Annisa Fitri mengungkapkan, Cerpen-cerpen yang dituliskan Fajar adalah cerita yang nyaman, rapi dan baik untuk dibaca. Selain itu, gaya penulisannya dapat membuat pembaca untuk terus menyimak hingga akhir cerita. Ia juga memberikan evaluasi yang perlu diperbaiki Fajar sebagai penulis.  “Tentunya yang pertama adalah penyusunan klausa. Seperti yang sudah disinggung oleh kurator di sesi tadi, bahwasannya Fajar masih berbelit-belit dalam menyusun klausa majemuk.” Ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Ica itu menambahkan ada beberapa catatan untuk karya tersebut. Di antaranya berkaitan dengan gaya penulisan. Menurutnya, Fajar menciptakan cerpen yang berada di titik antara cerita yang gelap dengan cerita yang terang. Transisi penceritaan tersebut yang perlu diperbaiki. Ia lalu mencontohkan salah satu cerpen Fajar yang membahas tentang seorang wanita cantik dan suka bertarung.

“Penceritaan penggambaran tokoh yang tiba-tiba berubah menceritakan masa lalu dimana tokoh tersebut sedang beradegan intim tentu sangat terasa transisinya. jadi pembaca butuh vibes dan jeda nafas untuk membaca adegan-adengan seperti itu.” tambahnya

Sedangkan bagi Fajar, Rona Merah merupakan kumpulan cerpen (kumcer) yang berisikan 6 cerpen dengan 1 problematika yang mana di dalam tokoh tersebut mempunyai hubungan satu sama lain yang terhubung dalam satu judul, yakni Rona Merah. Kumcer ini berlatar tahun 80-90an yang mana saat itu sedang terjadi persoalan kesetaraan gender yang minim di periode tersebut.

Berkaitan dengan isi cerpen, ia mengungkapkan bahwa isu-isu yang diangkat di dalam kumcer dikemas lebih politis dan dapat dikaitkan dengan permasalahan iklim dan juga konflik lahan, sepertihalnya pertambangan.

Mengenai proses kreatif, Fajar menjelaskan bahwa ia sedang mencoba bereksperimen di dunia kepenulisan, khususnya cerita pendek. Proses pengerjaan cerpen tersebut dimulai pada bulan November ketika ia mendapati kelas penulisan gapus. Dari pengalaman itu, ia mencoba untuk membuat cerita bersambung dan dikirimkan ke beberapa rekan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar