Haul ke-12 Gus Dur, “Gitu Aja Kok Repot”

Foto kenangan Khofifah beraama (almarhum) Gus Dur

KBRN, Surabaya : KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 begitu dekat dengan umat ketika sebelum, saat, dan sesudah menjadi Kepala Negara. Bahkan hingga kini masih begitu populer slogan kebangsaan dalam berbagai persoalan, “Gitu aja kok repot”

Dalam suatu kesempatan putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yeni Wahid mengisahkan bahwa kalimat itu dari kota kata dari syair dan doa dalam bahasa Arab “…. Yassir wala tu’assir” (… tidak ada kemudahan kecuali Engkau/Ya Alloh mudahkan). 

Diketahui, kalimat allahumma yassir wala tu'assir merupakan doa permohonan kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menghadapi suatu urusan dan tidak diberikan kesulitan. Sebab mengandung arti “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau yang memudahkan”. 

Dalam kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, berdemokrasi, dengan begitu majemuk. Memang jika hanya melalui proses pemikiran “hitam-putih”, maka semua akan dibuat kebingungan dengan situasi dan kondisi di Indonesia dengan berbagai corak suka dan etnis hampir mewakili seluruh kekayaan corak dan etnis di dunia. 

Tetapi jika dikembalikan bahwa kehidupan ini adalah “Full colour”, maka seluruh warna di jagad raya ini hanya karena kehendak Allah Subahanahu wa Ta’ala. Dengan kata lain melalui pendekatan kekinian dan menggunakan forum demokrasi sebagai penawar kebangsaan, maka slogan “gitu ajak kok repot” dari Gus Dur adalah warisan yang wajib untuk dijaga dan dilestarikan dalam kehidupan begitu majemuk. 

Sebagaimana Khofifah mempertegas pernah mendapat  wasiat dari Gus Dur, bahkan tokoh dengan segudang pemahaman pluralis lebih suka disebut sebagai humanis.

Humanis adalah sebutan bagi Penganut Humanisme, Menurut KBBI, humanis adalah orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas perikemanusiaan; pengabdian kepentingan sesama umat manusia.

Berbeda dengan pluralis sebagaimana dilansir wikipedia Pluralisme (bahasa Inggris: pluralism), terdiri dari dua kata plural (beragam) dan isme (paham) yang berarti paham atas keberagaman. Secara luas, pluralisme merupakan paham yang menghargai adanya perbedaan dalam suatu masyarakat dan memperbolehkan kelompok yang berbeda tersebut untuk tetap menjaga keunikan budayanya masing-masing.

Jumát (31/12/2021), Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negara Grahadi Surabaya menyampaikan bahwa tanggal 31 Desember 2009 (12 tahun silam) Gus Dur dimakamkan di kompleks pemakaman Tebuireng Jombang.

Oleh karena itu,  mengajak masyarakat Indonesia untuk mengadopsi nilai-nilai keteladanan dan pemikiran Gus Dur. Apalagi latar belakang cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sebelum menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah hasil Muktamar NU ke-27 di Situbondo, sempat menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta dan memimpin Forum Demokrasi dengan berbagai latar belakang para pemikir dari berbagai umat beragama.

Oleh karena itu, jika Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak meneladani Gus Dur, hal itu merupakan keniscayaan. Apalagi Gus Dur senantiasa menggaungkan nilai-nilai kemanusiaan, plularlisme, inklusivitas, dan toleransi. 

Bagi seluruh Warga Negara Indonesia melenaladani humanis dan pluralisme Gus Dur adalah keniscayaan.Bahkan wajib terus dijaga mengingat situasi dan kondisi di Indonesia yang sangat majemuk dengan keberagaman agama, suku, bangsa, budaya, adat istiadat, dan budaya. 

Tetapi jauh lebih hebat jika mampu meneladani Gus Dur sebagai humanis sebagaimana wasiat Gus Dur saat akan wafat, menyampaikan kepada Khofifah sampai tiga kali, meminta agar batu nisannya ditulis "The Humanist Died Here" (Di sini berbaring seorang Humanis).  Dan sejak haul ke-5 hingga saat ini jika ziarah ke makam Gus Dur akan tampak tulisan "Here rest a humanist". 

Itu berarti dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indoenia (NKRI), bukan sekedar pamer kekuatan dan kehebatan maupun kepintaran. Tetapi berlaku humanis merupakan nilai-nilai tertinggi dalam berbangsa, bernegara, dan beragama. “Gitu aja kok repot”.  

Itu berarti bahwa dalam pengabdian terhadap kepentingan sesama manusia semua harus dibuat mudah, dan dapat diselesaikan karena kemudahan dari Allah SWT. Bukan sebaliknya, menebar permusuhan apalagi kekerasan karena nafsu manusia.

Ditulis : Redaktur Senior Joko Tetuko

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar