Asosiasi Developer Property Syariah Beberkan Cara Bertahan di Tengah Pandemi

Silaturahim Kerja Nasional (Silaknas) VI DPS

KBRN, Surabaya : Asosiasi Developer Property Syariah (ADPS) terus berupaya meningkatkan pemahaman terkait konsep syariah dalam bisnis properti. Langkah ini dinilai penting agar konsumen lebih paham dan mengerti dalam mengelola bisnis properti.

Arief Sungkar, Ketua ADPS mengungkapkan asosiasinya merupakan developer yang menyediakan rumah dengan konsep pembiayaan syariah tanpa melibatkan pihak ketiga. 

"Jadi ketika ada jual beli, langsung antara penjual dan pembeli. Sehingga konsumen langsung beli atau mengangsur ke developer. Konsep properti syariah yang kami bangun untuk memberikan solusi masyarakat bisa membeli rumah tanpa riba, " ungkapnya di sela Silaturahim Kerja Nasional (Silaknas) VI DPS, Kamis (2/12/2021).

Dalam Silaknas VI DPS ini,  pihaknya berupaya menaikkan kompetensi member agar naik kelas dalam mengelola bisnis property dengan skema penjualan tanpa riba.

Pihaknya juga melakukan program konversi bantuan kepada developer yang terkena dampak pandemi. Sehingga pembangunan tetap bisa dilakukan meskipun tanpa pendanaan dari bank.

"Kami juga menciptakan jutaan lapangan pekerja hampir lima ribu orang dan enam belas ribu freelancer yang telah ikut dalam putaran bisnis untuk proyek property syariah kami,"urai pria yang juga menjabat sebagai CEO Royal Orchid Syariah Group ini.

Sejak berdiri tahun 2013, ADPS telah mengerjakan 1.050 proyek dan menyerap hampir 5.000 tenaga kerja dan 16.000 freelancer.

Harapannya di tahun 2025 akan mampu membangun 1 juta unit dan melibatkan pekerja langsung hingga 100.000 orang.

"Tren pembelian selama pandemi bisnis properti pertumbuhannya minus dua persen di tahun 2020, dan tumbuh di 2021 tetapi hanya satu digit. Sebaliknya, property syariah selama pandemi proyek kami malah tumbuh 40 persen di tahun 2020 dan tumbuh 50 persen di 2021,"lanjutnya.

Hal ini tak lepas dari kecenderungan minat masyarakat pada produk halal dan syariah yang semakin besar.

Sehingga property syariah mengalami pertumbuhan eksponensial, hampir dua kali lipat dalam dua tahun terakhir selama pandemi.

Arief menambahkan, properti syariah saat ini masih baru dan jarang orang melihat bahwa bisa membangun properti tanpa menggunakan pendanaan dari bank. 

"Faktanya kami sudah berjalan sembilan tahun. Dan sudah banyak rumah yang kami bangun.  Ini riil yang kami lakukan,"ujarnya.

Selain itu, pihaknya masih mendorong pemerintah membuat UU properti syariah karena ADPS sudah ada dan hadir di masyarakat. 

"Orang yang bekerja di sektor nonfixed income, mereka tidak bisa beli rumah kalau menggunakan skema kpr bank.  solusinya mereka hanya bisa beli rumah di developer properti syariah, melalukan pembelian dan penjualannya yang langsung angsur ke developer tanpa menggunakan kpr bank. Kalau pemerintah jeli ini bisa membantu industri properti nasional,"ungkapnya.

Hamdan Dahyar, Waka Pembina ADPS mengungkapkan pertumbuhan DPS cukup tinggi di Surabaya dan Makassar, bahkan di Makassar cukup signifikan dengan adanya 20 proyek. 

"Kalau di Jatim ada 227 dan itu terus bertambah seiring bertambahnya member. Saat ini ADPS hadir di 29 provinsi targetnya akan ada 1 juta unit di 2025 menyebar di seluruh provinsi di Indonesia,"lanjutnya.

Komarudin, Ketua DPW ADPS Jatim menambahkan pertumbuhan properti syariah di Jatim cukup tinggi dengan adanya 227 Proyek dan terus bertambah seiring pertambahan member.

"Paling subur di Malang, Jember, Ponorogo, Kediri dan Surabaya," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar