Tingkatkan Kualitas Pelatih Jelang Liga 3, Asprov PSSI Jatim Adakan Workshop Pelatih

Dok. Asprov PSSI Jatim

KBRN, Surabaya ; Guna meningkatkan kualitas pelatih yang akan menangani Liga 3 Jawa Timur musim 2021, Asprov PSSI menggelar Workshop Pelatih Kepala Liga 3 Jawa Timur.

Dyan Puspito Rini, Sekretaris Asprov PSSI Jatim mengatakan langkab ini sejalan dengan program yang dicanangkan Ketua Asprov PSSI Jatim Ahmad Riyadh pada Kongres PSSI lalu. Ada dua hal yang paling penting  yakni youth development dan coacing for coaches, atau pelatihan untuk pelatih Liga 3 Jatim.

“Menjelang Liga 3 ini, kami melakukan penyegaran. Salah satunya refreshment wasit dan asisten yang kemarin dan sampai hari ini masih berjalan di Hotel 88. Dan sekarang Workshop pelatih kepala Liga 3,” kata Dyan.

“Ada tiga tahapan pelatihan yang digelar PSSI Jatim untuk pelatih. Yakni pelatihan bagi pelatih level dasar, medium, dan kali ini pelatih Liga 3 yang menjadi ujung dari kompetisi amatir di Jawa Timur,” tambahnya.

Ririn sapaannya, mengatakan ini bakal jadi agenda rutin dari Asprov PSSI Jatim. Menurutnya pelatih Jawa Timur harus bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Artinya, ke depan seorang pelatih tidak bisa bergantung pada materi pemain saja, tapi juga kemampuannya sendiri dalam meracik tim dan game tactical.

“Tahun depan, mulai Januari (2022) akan ada banyak pelatihan. Karena program ini golnya bukan untuk jangka pendek, tapi medium dan jangka panjang. Pelatih-pelatih Jawa Timur harus terus diupdate keilmuan dan kemampuannya agarnantinya pelatih-pelatih di Jatim banyak menyumbangkan pemain yang kelak menjadi tulang punggung timnas pada masa memdatang," imbuhnya.

“Pemain ini kan berkorelasi erat dengan pelatih. Kalau pelatihnya tidak diupdate, apa yang akan kita ajarkan ke pemain. Mengubah kebiasaan para pemain tidaklah mudah, maka dibutuhkan pelatih yang kompeten dan cepat beradaptasi dengan metode melatih terbaru,” paparnya.

Selain itu, pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ada materi-materi baru yang berbeda dibanding sebelum pandemi. Di antaranya perbedaan perilaku dan kebiasaan dalam sepak bola. Hal ini dinilai penting untuk diketahui seorang pelatih yang akan menangani tim di masa pandemi. 

“Kalau dulu, pelatih tidak perlu memikirkan protokol kesehatan. Sekarang, tentu harus menerapkan prokes. Itu satu beban tambahan buat pelatih. Membiasakan dan meyakinkan atlet bahwa prokes menjadi tanggung jawab pribadi pemain bukanlah sesuatu yang mudah,” ungkap Ririn.

Bukan hanya itu, menurutnya pelatih harus memperhatikan sisi psikologis atletnya karena bermain tanpa penonton itu rasanya akan berbeda. Sebab pemain bisa tak mendapatkan atmosfer bertanding yang sebenarnya, meski sebetulnya yang nonton mereka bertanding di layar kaca sangat banyak. Kemudian, recovery pemain agar imunitas tubuhnya tetap terjaga usai bertanding juga harus menjadi perhatian karena itu sangat penting di masa pandemi seperti sekarang.

Sementara Anggota Bidang Teknik dan Pengembangan Asprov PSSI Jatim, Joko Susilo, mengatakan melalui workshop kali ini pelatih-pelatih tim kontestan Liga 3 Jatim musti beradaptasi dengan banyak kebiasaan baru, terutama menyangkut prokes.

“Ada banyak perbedaan. Mulai persiapan, perekrutan pemain, ekspektasi penonton, ekspektasi pengurus, dan tentunya prokes. Semuanya tidak sama dengan sebelum pandemi. Ini harus diketahui para pelatih Liga 3 Jatim,” jelas Joko.

Selain itu mengenai regulasi permainan yang semuanya berubah juga harus membuat pelatig  cepat beradaptasi. Is berharap para pelatih memahami semua dan mengantisipasinya agar nantinya laga berjalan lancar dan hasilnya juga baik.       

“Perbedaan itu bisa dirasakan mulai saat rekrutmen pemain. Karena di masa pandemi ini lebih sulit mendapatkan pemain yang sudah menjadi incaran kita. Karena semua tim saling berebut, sementara stok yang ada tidak sesuai dengan keinginan kita sebagai pelatih. Ini yang saya rasakan saat menangani tim Liga 1 maupun Liga 2,” tegas Joko.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00