Kisah Relawan, Rela Tempuh Waktu 1 Jam Setiap Hari untuk Anak Korban Semeru

Trauma healing untuk anak korban erupsi semeru

KBRN, Lumajang : Menjadi relawan tak pernah ada dibenak Huriah Nabila. Mahasiswa semester 5 Fakultas Kedokteran Universitas Hangtuah Surabaya ini merasa terketuk ketika Gunung Semeru Erupsi.

Sudah empat hari, Gadis kelahiran Lumajang Kota ini harus menempuh jarak 1 jam hanya untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak korban erupsi Semeru.

"Jarak rumah dari Posko pengungsian Kecamatan Candi Puro ini 15 kilometer. Ya 1 jam lah. Kita mandiri atas inisiatif sendiri. awal bingung mau ngapain, akhirnya kita dirahkan untuk memberi pendampingan kepada anak-anak korban erupsi. Kayak trauma healing gitu," ungkap Nabila kepada RRI, Rabu (8/12/2021).

Awal ia tergerak dan bergabung dengan relawan lainnya dari grub SRPB Jatim. Hingga akhirnya ia mengajak tema-teman satu grub untuk berkontribusi langsung.

"Ya berawal dari grub. Kita awal gak pada kenal. Ya disini ini kenalnya. Saya mikir tiba-tiba tercetus kenapa aku gak ke Semeru saja ya. Terus kontak-kontakan dengan yang namanya Kak Ara, dia dari Jogja. Dan satu lagi Sovi dari Lumajang juga," paparnya.

Karena baru pertama kali terjun menjadi relawan mandiri, Bila dan kedua temannya kebingungan harus melakukan apa, hingga akhirnya diminta membantu memberikan pendampingan

"Kita tergerak aja. Lihatnya kasihan. Pas pertama kita datang Senin adek-adek ini diam aja, kayak pandangan kosong, terus Selasa kita ajak main selanjutnya mereka aktif gitu, ketawa ketawa.

Sementara itu Sovi menceritakan berhadapan dengan anak korban erupsi baru pertama kali. Ia rela berangkat dengan motor bersama Nabila kadang pulang larut malam.

"Saya mau nangis. Ada anak namanya Akbar, dia diam aja. Malam baru kita akrab. Berangkat pagi jam 8.00 pulang malam. Ketika kami mau pamit pulang, ia merasa kehilangan begitu," terangnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar