PWI Kediri Kunjungi Monumen Pers Nasional Surakarta

Penyerahan Cinderamata saat kunjungan PWI Kediri ke MPN Surakarta. (Foto: Ayu Citra)
Proses digitasi file koran dan majalah di MPN Surakarta. (Foto: Ayu Citra)
Suasana kunjungan pelajar asal Yogyakarta di MPN Surakarta. (Foto: Ayu Citra)

KBRN, Kediri: Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kediri mengunjungi Monumen Pers Nasional (MPN) yang terletak di Jalan Gajah Mada Nomor 59 Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (24/5/2022). Agenda ini merupakan salah satu rangkaian dari acara Study Comparative Bersama Mitra Kerja PWI Kedjri Tahun 2022.

Dalam sambutannya, Kepala Monumen Pers Nasional Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI, Widodo Hastjaryo, M.Si, menyatakan, terima kasih atas kunjungan sejumlah anggota PWI Kediri ke Monumen Pers Nasional (MPN) Surakarta.

"Di MPN Surakarta ini, PWI Kediri bisa mengetahui tentang fungsi dan tugas Monumen Pers Nasional dalam melakukan pengelolaan dan pemeliharaan koleksi benda bersejarah yang dimiliki. Ada sekitar 1,2 juta halaman koran yang saat ini telah kami digitalisasi. Angka ini terdapat dari kiriman file yang masuk ke MPN sekitar 30.000 koran, baik dari skala lokal, Nasional, serta ada pula koran pada masa lampau, di mana koran tertua yakni tahun 1816 dan dipublikasikan dalam dua Bahasa campuran, Bahasa Inggris dan Belanda. Tak hanya itu, ada majalah juga yang kami arsipkan, seperti Majalah Joyoboyo dan Panjebar Semangat, serta dari wilayah Indonesia Timur ada pula Koran Cenderawasih Post yang ikut kami filekan," kata Widodo Hastjaryo.

Dari pengiriman file tersebut, tambah Widodo, masyarakat bisa memahami bahwa ada pengetahuan atau sejarah yang belum tentu dibagikan oleh negara atau pemerintah pada masa itu. Misal, dari MPN ini publik dapat mengetahui bahwa daerah Magetan di Provinsi Jawa Timur, ternyata dulu adalah sentra penghasil parfum.

"Dari koleksi di MPN inilah, ketika di naskah negara tidak ditulis, maka kita tahu ternyata ada koleksi koran di MPN yang pernah menulisnya. Kalau target file yang discan ada 750 halaman per hari dan karena dikerjakan oleh tiga tenaga maka dalam sehari ada sekitar 2.250 halaman yang discan," katanya.

Selain terdapat koleksi koran tempo dulu hingga sekarang, MPN Surakarta juga memiliki koleksi lain, seperti kamera dan tas milik Wartawan Harian Bernas sejak tahun 1986, Fuad Muhammad Syafruddin. Pria yang akrab disapa Udin diketahui dianiaya oleh orang tak dikenal dan kemudian meninggal dunia.

"Sebelum kejadian ini Udin kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer," katanya.

Di tempat sama, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta, Anas Syahirul juga turut menyampaikan sambutannya di hadapan anggota PWI Kediri. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua PWI Kediri, Bambang Iswahyoedhi, dan acara dilanjutkan dengan serah terima souvenir, serta keliling MPN Surakarta.

"Alhamdulillah, kehadiran PWI Kediri adalah kunjungan pertama yang terjadi setelah dibukanya MPN pasca ditutup saat Pandemi Covid-19. Di tempat ini, pengunjung juga bisa melihat Ruang Semedi Menteri Penerangan RI, Harmoko saat beliau berkunjung ke Solo," katanya.

Lebih lanjut, Ketua PWI Kediri, Bambang Iswahyoedhi mengucapkan, terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan oleh PWI Surakarta dan MPN. Apalagi telah diajak berkeliling dan melihat langsung koleksi MPN, sehingga mampu memahami Sejarah Pers Indonesia yang tidak bisa lepas dari Monumen Pers Nasional.

"Ke depan, kami juga menunggu kunjungan dari PWI Surakarta maupun perwakilan MPN yang akan bertandang ke Kediri. Kami dengan senang hati akan memberikan sambutan terbaik dan siap mengajak ke sejumlah destinasi wisata unggulan di Kediri, seperti Gunung Kelud dan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG)," katanya.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut, Pembina PWI Kediri, Mega Wulandari, sejumlah pengurus PWI Kediri dan anggota, serta mitra kerja sama PWI Kediri.(ac)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar