MUI Jatim: Berkurban Bentuk Ketaqwaan dan Kesolehan Sosial

KBRN,Jember : Pelaksanaan Hari Raya Idhul Adha tidak terlepas dari proses penyembelihan hewan kurban. Karena di dalam Idhul Adha kurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. 

Menurut Moehammad Fathorrazi, pakar Ekonomi Syariah Universitas Jember sekaligus Ketua Badan Pengembangan Industri Halal MUI Jatim, ibadah kurban mengandung dua makna yang sangat penting.

“Yang pertama adalah sebagai bentuk ketaqwaan kita kepada Allah atau habblum minallah. Yang kedua adalah bentuk kesolehan sosial kita dalam berbagi kebahagiaan dengan sesama atau hablum minannas. Jadi satu ibadah langsung mendapat dua keutamaan,” ujarnya usai melakukan penyembelihan hewan kurban di Masjid Al-Hikmah dikutip melalui rilis resmi Humas Universitas Jember kepada RRI, Rabu (21/7/2021).

Menurut pria yang akrab disapa Rozi ini, melaksanakan ibadah kurban menjadi salah satu tolak ukur kualitas ketaqwaan seorang ummat Islam. Karena menurutnya, selain bernilai ibadah kepada Allah pelaksanaan ibadah kurban juga berkaitan erat dengan kontribusi kita kepada umat yang lain.

“Karena ini sejalan dengan Sabda Nabi Muhammad bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Salah satunya melalui ibadah kurban,” imbuhnya.

Rozi menambahkan, ibadah yang mengandung nilai hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) sebenarnya memiliki keutamaan yang lebih besar dari pada ibadah yang hanya berhubungan dengan Allah langsung (hablum minallah).

“Contohnya kalau kita salat berjamaah, maka kita itu mendapatkan 27 derajat. Bahkan ada hadist yang menganjurkan kita supaya makan dengan berkelompok dan jangan bercerai-berai karena sesungguhnya barokah itu terletak pada berkelompok,” imbuh Rozi.

Berkaitan dengan Pandemi Covid-19 menurut Rozi kurban justru menjadi salah satu ibadah yang sangat tepat untuk dilakukan bagi yang mampu. Karena disaat pandemi ini kebutuhan makanan yang sehat dan bergizi semakin meningkat.

“Padahal tidak semua orang mampu membeli makanan bergizi seperti halnya daging. Oleh karena itu distribusinya harus tepat. Bisa juga daging dibagikan kepada masyarakat tidak mampu yang sedang melakukan isolasi mandiri di rumah atau yang berpotensi terpapar Covid 19,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00