Zuhud Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jaelani

Zuhud Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jaelani Ra

Oleh : M. Labid Faidli (Pengasuh WAG Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

KBRN, Surabaya :Di ceritakan oleh syekh Abdul Qadir al Jilani bahwa Nabi Isa As. itu kesehariannya memakan rerumputan ( dedaunan ) yang tumbuh di tanah lapang , meminum air anak sungai ( ghudran ) dan menempati gua-gua dan bangunan tua yang tak berpenghuni . Bila tidur beliau menjadikan batu atau lengan tangannya sebagai bantal . Seorang mukmin seharusnya berperilaku seperti ini sehingga suatu saat bertemu dengan Rabbnya sekalipun dia mempunyai jatah hidup di dunia yang layak dalam hal makanan, minuman , pakaian dan fasilitas-fasilitas lainnya .Ketika dunia menghampirinya maka dia seolah -olah secara kasat mata  terobsesi dengan dunia itu dan memenuhinya ( menurut pandangan manusia)  , tetapi  hatinya tetap bersama Allah azza wa Jalla tidak berubah, karena asketisme ( sifat zuhud ) bila telah bersemayam dalam hati seseorang maka tidak akan diubah ( terusik )  oleh gemerlapannya dunia . Lalu syekh Abdul Qadir al Jaelani Ra. berkata :المؤمن لو كان يحب الدنيا وأهلها وشهواتها ولذتها ما كان يصبر عنها لحظةً مشغولا بها في ليله ونهاره , وما كان يتعبد ويتنسك ولا يذكر الله عز وجل ولا يطيعه فبصَّره الله بعيوب نفسه فتاب منها وندم عليها على ما فرط منه في أيامه الخالية ,

 “ Seandainya orang mukmin mencintai dunia berikut pernak perniknya maka ia tidak betah / sabar tinggal bersama dunia walaupun sesaat dengan di sibukkan oleh urusan dunia siang malam sehingga  ia tidak beribadah , tidak mengingat Allah Azza wa Jalla dan tidak akam mematuhi-Nya , lalu Allah Swt. memperlihatkan kepadanya betapa banyaknya aib yang ada pada dirinya sehingga ia bertaubat menyesali apa saja yang ia abaikan di masa lalunya”.Dan di samping itu Allah Swt. juga memperlihatkan kepadanya akan bujuk rayu dunia melalui  jalur pemahaman Alquran dan Sunnah dan para masyayikh ( guru-guru mursyid ) lalu sifat zuhud datang kepadanya dan bersemayam dalam hatinya. Setiap kali ia melihat satu aib/cacat  dunia yang sifatnya amat menggoda dan mempersona maka ia dapat melihat aib-aib lainnya lalu ia sangat sadar bahwa dunia itu cepat tau lambat tetap sirna  ( faniyah ) , waktunya sangat singkat dan terbatas , kenikmatannya juga cepat berlalu ( zailah ) , keindahannya cepat berubah , moralnya ganas , tangannya membantai , kata-katanya adalah racun dan tidak memiliki refrensi dasar dan perjanjian .

Menekuni dalam dunia bagaikan membangun bangunan di atas air . lalu ia tidak menempatkan dunia  di hatinya , tidak menjadikannya rumah , tetapi ia berusaha membebaskan dirinya dari pengaruh dunawi sehingga pada akhirnya ia mengenal al Haqqa ( allah Swt. ) dan merasa nyaman bersanding dengan-Nya dan bahkan kedekatannya dengan Rabb menjadi suatu keniscayaan baginya di dunia dan akhirat dan membangun sebuah rumah disana sebagai tempat singgah hati dan srrinya

.فحينئذ لا تضره عمارةُ الدنيا ولو بنى ألفا من الدور و لأنه يبني لغيره لا له“

Sehingga dengan demikian gemerlapan dunia ( keramaiannya )  tidak akan mengganggu dirinya sekalipun ia mempunyai kemampuan membangun 1000 hunian karena itu semua untuk selain Allah swt. bukan karena Allah Swt. “.Lalu ia mengindahkan perintah Allah Azza wa Jalla dan menyetujui akan keputusan-Nya dan taqdir-Nya sambil berketetapan hatinya untuk melayani orang-orang dan sekaligus menghibur mereka.

Dia mendatangkan secercah harapan dalam kegelapan mereka  dalam urusan dapur terutama menyiapkan makanan mereka dan sedikitpun ia tidak mencicipi makanan itu karena ia mempunyai makanan khusus untuk dirinya , lalu ia tidak berpuasa ketika sedang berhadapan dengan makanannya dan berpuasa dengan menahan rasa lapar dan dahaga ketika berhadapan dengan makanan orang lain . Petapa itu selalu bisa menahan diri dari makanan dan minuman sedangkan orang yang makrifat itu bisa menahan dari makanan yang tidak ia kenal sekalipun ia merasa lapar ia tidak akan makan seenaknya tanpa resep dokternya ( sangat hati-hati dan selektif hanya makanan yang betul-betul halal ) .

Lebih lanjut beliau berkata :, صوم الزاهد نهارا وصوم العارف نهارا وليلا , لا فطر لصومه حتى يلقى ربه عز وجل , العارف صآئم الدهر دآئم الحمى , صآئم الدهر بقلبه محموم بسره , قد علم أن شفآئه لقآء ربه وقربه منه .

“ Puasa petapa itu hanya pada siang hari sedangkan puasa ahli makrifat pada siang dan malam tidak ada kamus berbuka bagi puasanya sampai ia bertemu dengan Tuhannya Azza wa Jalla .

Jadi orang yang makrifat itu berpuasa sepanjang masa lagi pula ia  selalu merasa demam . Ia berpuasa selamanya di dalam hatinya dengan jantung tersa berdebar-debar karena sirrinya dengan penuh keyakinan bahwa obatnya adalah bertemu dengan Allah Swt. dan rasa kedeketannya dengan-Nya”.  اللهم وسِّعْ علينا في الدنيا وزهدنا فيها ولا تزوها عنا وترغبنا فيها فنهلكَ بطلبها , اللهم الطف بنا في أقضيتك وأقدارك , آمين  يا كريم ويا دآئم الإحسان

Di kutip dari “ al Fathurrabbani “ Hal. 110-111 .

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00