Momentum Maulud Nabi, Prof Said Aqil: Tidak Boleh Ada Permusuhan Karena Beda Suku, Agama, dan Partai

Prof. Said Aqil Ketua PBNU (Dok. nu.or.id)

KBRN, Surabaya : 15 Abad yang lalu, lahirlah utusan Allah SWT, yang menjadi pamungkas dari utusan utusan Allah sebelumnya. Utusan yang sempurna, yang disebut juga the perfect man, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Sirodj menceritakan, Nabi Muhammad lahir pada abad ke 6 Masehi, ditengah tengah masyarakat yang bergilang dalam era jahiliah.

"Dengan visi misi, Allah menerangkan, Saya perintahkan kepadamu Muhammad, agar kamu membangun umat, komunitas sosial. Komunitas seperti apa? Umat yang dikehendaki oleh Tuhan adalah, umatan washaton, umat yang mempunyai prinsip tawasut, moderat, dan mempunyai sikap tasamuh, toleran," ujarnya, dikutip dari chanel AKA Studio, Senin (18/10/2021).

Prof. Said Aqil kembali menjelaskan, bagaimana komunitas umat yang diharapkan adalah, umat yang tidak memonopoli kebenaran, tidak mengaku hanya kelompoknya yang benar, sedangkan kelompok lainnya salah.

"Itu prinsip Islam yang paling utama. Oleh karena itu, ketika nabi Muhammad menjalankan tugas membangun umat yang ideal, Nabi Muhammad membangun masyarakat, namanya Madinah Civilized. Bukan negara Islam, bukan negara Arab, tetapi negara Madina," imbuhnya.

Artinya, lanjut Prof. Said Aqil, platformnya adalah keadilan, kebersamaan, persaudaraan, lintas agama, lintas suku, lintas budaya. Didalam masyarakat Madinah, ada muslim ada non muslim, malah yang non muslim cukup besar karena terdiri dari tiga suku, yaitu Yahudi, Qaynuqa, dan Suku Nadir.

"Sedangkan umat Islam hanya terdiri dari Muhajirin dan Ansor. Pribumi dan pendatang. Tapi oleh Nabi Muhammad, masyarakat penduduk Madinah, diperlakukan sama. Nabi sering menyampaikan dalam Khutbah Jumat, sederhana ucapannya tapi artinya sangat dalam, tidak boleh ada permusuhan, kecuali kepada yang melanggar hukum," tambahnya.

Maknanya, kata Prof Said Aqil adalah, tidak boleh ada permusuhan hanya karena beda agama, berbeda suku, berbeda kepentingan, bahkan berbeda partai politik. Permusuhan berlatar belakang hal itu, lanjut Prof. Said Aqil, tidak dibenarkan dalam Islam.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00