Rentan Rusak, 15 Kitab Kuno Koleksi Tebuireng Didigitalisasikan

KBRN, Surabaya : Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang, Jawa Timur terkenal sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia. Tidak heran di Ponpes twrsebut banyak koleksi kitab-kitab kuno yang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Ponpes Tebuireng.

Kitab fiqih yang bertulis tangan era Hadratussyech KH Hasyim Asyari hingga mushaf Al-Quran bertulis tangan dari timur tengah pada abad ke 19 juga masih tersimpan rapi.

Melihat kitab-kitab kuno tersebut kekuatannya semakin hari semakin lemah dan rawan akan hancur. Pesantren Tebuireng bekerjasama dengan PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) UIN Jakarta, dan Mahad Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng telah mendigitalisasikan 15 kitab kuno tersebut agar terselamatkan dari kerusakan.

Abdullah Maulani (27) Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta mengungkapkan, melalui program DREAMSEA pihaknya berusaha mendigitalisasikan naskah manuskrib atau tulis tangan agar tidak rusak.

"Tebuireng ini salah satu pesantren bersejarah dan saya menyakini banyak kitab kuno yang harus didigitalisasikan agar kitab tersebut bisa dinikmati oleh semua orang dikemudian hari," katanya, di Tebuireng.

Sebagai informasi sebuah skriptorium, praktik penulisan dan penyalinan teks-teks keislaman di Pesantren Tebuireng Jombang telah dilakukan sejak masa silam. Terbukti dengan ditekukannya sejumlah karya tulisan tangan para santri dan ulama lokal dihasilkan selama ratusan tahun lamanya dalam bentuk manuskrip atau naskah kuno. 

Dalam kurun waktu itu juga para ahli waris merawat khazanah manuskrip peninggalan leluhurnya. Sejumlah kajian juga turut dilakukan baik oleh kalangan santri setempat maupun para sarjana di luar pesantren.

"Kitab-kitab kuno ini memiliki khazanah dan keistimewaan, sehingga perlu disampaikan kepada masyarakat. Maka perlu adanya digitalisasi," jelasnya.

Melihat kondisi kitab kuno yang ada di Tebuireng beragam dan ada yang masih terawat bagus dan ada juga yang sudah mengalami kerusakan membuat tim agak terhambat dalam mendigitalisasikan.

"Kalau hambatan, mungkin karena kitabnya sudah tua dan ada yang sobek-sobek jadi agak terhambat pemotretannya. Dalam sehari kami hanya bisa mendigitalisasi sekitar 500 halaman saja," paparnya.

Sementara itu, Mohamad Anang Firdaus (32) Ketua LP2M Mahad Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng merasa terbantu dengan adanya digitalisasi ini. Menurutnya, memang sudah eranya digitalisasi sehingga kitab kuno seperti ini bisa dinikmati dan dipelajari untuk generasi selanjutnya.

"Semoga dengan digitalisasi ini, semua naskah bisa terselamatkan dan bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya," ujarnya.

Sekedar informasi, kegiatan digitalisasi manuskrib kitab kuno ini akan digelar selama 10 hari yang dimulai sejak tanggal 20-29 Mei mendatang yang digelar di Perpustakaan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar