FOKUS: #TANGGAP BENCANA

Tujuh Bangunan Gubuk Terbakar Saat Ditinggal Mudik

Tujuh bangunan semi permanen atau gubuk di kawasan Pejagalan yang ditinggal mudik penghuninya terbakar, Senin (9/5/2022). Bangunan semi permanen tersebut berlokasi di kawasan kolong tol Jalan Inspeksi Kali Duri, RT 07/16 Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara. (Ryan Suryadi/RRI)

KBRN, Jakarta: Tujuh bangunan semi permanen atau gubuk di kawasan Pejagalan yang ditinggal mudik penghuninya terbakar, Senin (9/5/2022).

Bangunan semi permanen tersebut berlokasi di kawasan kolong tol Jalan Inspeksi Kali Duri, RT 07/16 Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara.

"Jadi yang terbakar ada enam sampai tujuh kontrakan (bangunan semi permanen). Ini semuanya kontrakan," terang Karsin, Ketua RT setempat kepada wartawan di lokasi kejadian,.

Menurut Karsin, deretan gubuk tersebut sebagian di antaranya tengah ditinggal mudik penghuninya.

Kebakaran awalnya terjadi pada pukul 15.00 WIB.

Warga yang berada di sekitar kolong tol itu digegerkan dengan suara ledakan serta adanya api besar yang muncul dari salah satu bangunan.

Api dengan cepat menjalar ke bangunan-bangunan semi permanen lainnya.

Karsin mengatakan, sebagian penghuni gubuk-gubuk itu tidak ada di lokasi ketika kebakaran terjadi karena masih berada di kampung halaman masing-masing.

"Sebagian ditinggal mudik, sebagian lagi ditinggal kerja atau berjualan oleh pemiliknya," sambungnya.

Kebakaran tidak hanya menghanguskan deretan gubuk, namun juga sebuah bengkel sepeda motor, tempat cuci baju dan tempat membuat perabotan rumah tangga. 

Kepala Seksi Operasi Pemadam Kebakaran Jakarta Utara Abdul Wahid menyebutkan, untuk memadamkan kebakaran ini, diterjunkan sedikitnya 6 (enam) unit mobil pemadam kebakaran dari sektor-sektor di sekitar lokasi.

"Penyebab kebakaran sementara, diduga ada kebocoran kompor gas yang menyambar," jelas Abdul Wahid. 

Api berhasil dijinakkan petugas pada pukul 17.00 WIB, dengan perkiraan kerugian sementara di angka puluhan juta rupiah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar