Erupsi Lumpur Sidoarjo, Gas Alam Terbesar Dunia

(Universitas Oslo)

KBRN, Oslo: Sebuah studi terbaru menghitung jumlah emisi metana yang keluar dari salah satu sistem gas alam terbesar di Bumi - erupsi lumpur Sidoarjo.

Mengutip dari laman titan.ui.no, Senin (12/4/2021), studi tersebut menghitung jumlah emisi metana dari erupsi lumpur Sidoarjo sebesar 100.000 ton metana per tahun dan menjadi yang tertinggi yang diukur dari satu manifestasi gas alam terestrial.

lumpur Sidoarjo merupakan bentuk manifestasi gas yang terjadi pada tahun 2006 di Jawa Timur. Saat ini, lumpur Sidoarjo menjadi erupsi klastik aktif terbesar di dunia.

Sejak pertama keluar, lumpur Sidoarjo tak henti-hentinya menyemburkan air, minyak, gas, dan lumpur, dengan laju aliran puncak hingga 180.000 m3 (meter kubik) per hari. Tinggi gumpalan uapnya naik hingga beberapa puluh meter. Lumpurnya sendiri telah berdampak meluas ke sejumlah desa hingga beberapa kilometer persegi.

Sebuah studi kolaboratif internasional yang dipimpin peneliti CEED Adriano Mazzini di Universitas Oslo, Norwegia, telah memantau dan menganalisis lubang lumpur Sidoarjo selama beberapa tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena geologi ini dipicu oleh tekanan fluida yang tinggi pada batuan sedimen dan suhu tinggi akibat interaksi dengan gunung berapi magmatik di sekitarnya. Oleh karena itu, lumpur Sidoarjo dianggap sebagai manifestasi permukaan dari sistem sedimen/hidrotermal hibrida.

Gas yang meletus kaya akan karbondioksida (CO2) dan metana (CH4), yang disemburkan di pusat kawah dan melintasi ribuan lubang seluas 7,5 km2 (kilometer persegi).

Tim peneliti menggabungkan teknik pengukuran berbasis darat dan satelit (TROPOMI) untuk mengukur jumlah gas yang dilepaskan ke atmosfer oleh lumpur Sidoarjo. Kedua teknik tersebut menunjukkan total keluaran metana sekitar 100.000 ton per tahun. Ini adalah emisi metana tertinggi yang pernah tercatat secara eksperimental untuk satu manifestasi gas alam.

Hasilnya, yang diterbitkan baru-baru ini dalam Scientific Report, menunjukkan bahwa perkiraan terbaru dari emisi metana geologi global, berdasarkan radiokarbon di inti es era pra-industri (berkisar antara 100.000 hingga 5.400.000 ton CH4 per tahun), mungkin terlalu kecil.

Dengan kata lain, jumlah metana yang dilepaskan oleh lumpur Sidoarjo saja, sudah sesuai dengan penilaian minimum studi berbasis inti es untuk seluruh planet.

Emisi dari lumpur Sidoarjo dianggap konsisten secara proporsional dengan tingkat fluks metana (yang disebut "faktor emisi") yang biasanya dilepaskan oleh manifestasi gas alam terestrial lain yang serupa (misalnya, gunung lumpur, sistem rembesan metana besar).

Jika semua lokasi degassing ini digabungkan secara global, estimasi global bottom-up menghasilkan total output sekitar 40-50 juta ton per tahun.

Mengetahui jumlah sebenarnya dan aliran pelepasan metana dari sumber geologi alam penting untuk menilai emisi gas antropogenik dengan lebih baik, seperti dari industri minyak, dan persediaan metana atmosfer secara umum.

Studi baru ini juga menunjukkan bahwa pengukuran emisi gas yang diturunkan dari satelit dapat menjadi alat utama untuk mendukung studi di darat dan meningkatkan perkiraan persediaan geo-metana global.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00