Ekspansi Listrik Angin-Surya Lamban Hentikan Perubahan Iklim

(Chalmers University of Technology)

KBRN, Göteborg: Meski produksi energi terbarukan semakin meningkat setiap tahunnya, tetapi analisis tingkat pertumbuhan tenaga angin dan surya di 60 negara menyimpulkan hampir tidak ada negara-negara yang bergerak cukup cepat untuk menghindari pemanasan global sebesar 1,5. °C atau bahkan 2°C.

Penelitian ini dilakukan para peneliti di Chalmers University of Technology dan Lund University di Swedia dan Central European University di Wina, Austria. 

"Ini adalah pertama kalinya tingkat pertumbuhan maksimum di masing-masing negara diukur secara akurat, dan ini menunjukkan tantangan skala besar mengganti sumber energi tradisional dengan energi terbarukan, serta kebutuhan untuk mengeksplorasi beragam teknologi dan skenario," kata Jessica Jewell, Associate Professor Transisi Energi di Chalmers University of Technology.

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) telah mengidentifikasi skenario energi yang kompatibel dengan menjaga pemanasan global di bawah 1,5°C atau 2°C. Sebagian besar skenario ini melihat pertumbuhan listrik terbarukan yang sangat cepat: rata-rata sekitar 1,4 persen dari total pasokan listrik global per tahun untuk tenaga angin dan surya, dan lebih dari 3 persen dalam skenario tenaga surya yang lebih ambisius. Tetapi temuan baru para peneliti menunjukkan bahwa mencapai pertumbuhan pesat seperti itu sejauh ini hanya mungkin dilakukan di beberapa negara saja.

Mengukur dan memprediksi pertumbuhan teknologi baru seperti energi terbarukan itu sulit, karena tidak tumbuh secara linier. Sebaliknya, pertumbuhan biasanya mengikuti apa yang disebut kurva S -- pada awalnya ia berakselerasi secara eksponensial, kemudian stabil ke pertumbuhan linier untuk sementara waktu, dan pada akhirnya melambat karena pasar menjadi jenuh.

"Kami menemukan metode baru: menggunakan model matematika untuk mengukur kemiringan kurva S, yaitu tingkat pertumbuhan maksimum yang dicapai pada titik paling curam. Ini adalah cara yang sama sekali baru untuk melihat pertumbuhan teknologi baru," kata Jessica Jewel, seperti dikutip dari Science Daily, Minggu (17/10/2021).

Ketika menganalisis 60 negara terbesar, para peneliti menemukan bahwa tingkat pertumbuhan maksimum tenaga angin darat rata-rata 0,8 persen dari total pasokan listrik per tahun, dan rata-rata 0,6 persen untuk tenaga surya -- jauh lebih rendah daripada skenario IPCC. Pertumbuhan berkelanjutan lebih cepat dari 2 persen per tahun untuk angin dan 1,5 persen untuk matahari hanya terjadi di negara-negara kecil seperti Portugal, Irlandia dan Chili.

"Tampaknya pertumbuhan yang lebih cepat lebih mudah dicapai di negara-negara kecil yang lebih homogen, daripada di sistem yang besar dan beragam," kata Jessica Jewell.

"Di antara negara-negara besar, hanya Jerman yang sejauh ini mampu mempertahankan pertumbuhan tenaga angin darat sebanding dengan skenario stabilisasi iklim median. Dengan kata lain, untuk tetap berada di jalur target iklim, seluruh dunia harus membangun tenaga angin secepat yang dibangun Jerman baru-baru ini. Mungkin ada batasan seberapa cepat angin dan matahari dapat diperluas dan dengan demikian kita harus secara sistematis menganalisis kelayakan solusi iklim lainnya, terutama untuk ekonomi Asia yang tumbuh cepat seperti India dan Cina," kata Aleh Cherp, profesor Ilmu Lingkungan dan Kebijakan di Universitas Eropa Tengah dan Universitas Lund.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00