Inilah GeNose Alat Deteksi Covid-19

KBRN, Jakarta: Covid 19 masih marak dan terus berkecimpung di ranah publik, khususnya transportasi yang kerap digunakan masyarakat. Mengantisipasi hal itu pengunaan alat deteksi Covid-19 “GeNose” di simpul-simpul transportasi umum seperti di Stasiun Kereta Api, Bandara, Pelabuhan dan Terminal pun digalakkan.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyebut penempatan alat deteksi GeNose akan berdampak sangat penting bagi masyarakat dalam menyukseskan pencegahan menyebarnya Covid 19. Alat yang dibuat lanngsung oleh tim akademisi dari Universitas Gajah Mada (UGM) itu, diakui sangat mudah digunakan hanya dengan cara menghembuskan nafas ketiga ke dalam kantung yang telah disiapkan.

"Inovasi ini membantu pemerintah dalam melakukan upaya 4 T (Tracking, Tracing, Testing dan Treatment)," ungkap Budi Karya Sumadi, Minggu (24/1/2021).

Menhub Budi menjelaskan, sesuai arahan Menkomarvest untuk mendorong penggunaan alat GeNose pada transportasi umum, Kemenhub telah berkoordinasi dengan Kemenkes, UGM, dan Satgas Penanganan Covid-19.

“Kami sudah berkomunikasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 dan akan segera ditindaklanjuti dengan surat persetujuan untuk penggunaan di simpul-simpul transportasi umum. Selanjutnya kemenhub akan membuat Surat Edaran kepada para operator transportasi. Kita rencanakan penggunaannya sudah dimulai pada 5 februari 2021 pada Stasiun KA terlebih dahulu, baru kemudian bertahap selanjutnya di Bandara,” ungkap Menhub.

Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, alat GeNose ini telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Bisa mendeteksi lebih cepat dan harga yang relatif lebih murah dengan akurasi di atas 90 persen," kata Luhut.

Luhut menyarankan, agar plastik yang digunakan pada alat ini dapat menggunakan bahan yang dapat didaur ulang agar lebih ramah lingkungan.

“Kedepannya kita akan gunakan ini di semua area publik seperti di Hotel, Mall, di lingkungan masyarakat RT/RW. Alatnya hanya seharga 62 juta dan harga per orangnya hanya dikenakan sekitar 20 ribu rupiah. Jika pemakaian lebih banyak tentunya costnya akan semakin turun dan nantinya alat ini akan terus dikembangkan sehingga mempunya akurasi yang akan lebih tajam. Dan tentunya kita harus bangga karena ini buatan Indonesia,” tutup Luhut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00